Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perintis UIN SATU Tulungagung, Ternyata Begini Sosok KH Arief Mustaqim di Mata Keluarga Terdekatnya

Matlaul Ngainul Aziz • Jumat, 10 November 2023 | 15:00 WIB
DIABADIKAN: Salah satu bangunan di UIN SATU Tulungagung yang dinamai Gedung KH Arief Mustaqiem. (Foto: Yoga Dany Damara/Radar Tulungagung)
DIABADIKAN: Salah satu bangunan di UIN SATU Tulungagung yang dinamai Gedung KH Arief Mustaqiem. (Foto: Yoga Dany Damara/Radar Tulungagung)

TULUNGAGUNG - KH Arief Mustaqiem DA merupakan seorang guru bangsa yang berasal dari Tulungagung. Berawal dari mendirikan lembaga pendidikan Sekolah Persiapan (SP) Singoleksono pada 1966, KH Arief Mustaqiem DA beserta tokoh masyarakat dan ulama yang peduli terhadap pembinaan umat, berinisiatif mendirikan perguruan tinggi Islam di Tulungagung. Kini, perguruan tinggi Islam tersebut telah berevolusi menjadi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU).

Peran KH Arief Mustaqiem DA dalam perkembangan dunia pendidikan di Tulungagung sangatlah besar. Memberikan manfaat dengan peduli terhadap pembinaan umat, menjadi pedoman yang senantiasa dipegangnya.

“Jadi, beliau itu setiap minggu bolak-balik ke Jakarta untuk mengurus pendirian perguruan tinggi Islam di Tulungagung,” jelas adik ipar KH Arief Mustaqiem DA, Haidar Mirza, Kamis (9/11/203).

Sejarah ini bermula sekitar 1966 silam. Pada masa itu, Yayasan Islam Sunan Rahmat yang dinakhodai KH Arief Mustaqiem mendirikan SP IAI Singoleksono bertempat di Pondok Haji Yamani Kampungdalem. Setelah berdiri dalam kurun waktu 2 tahun, beliau beserta tokoh masyarakat dan ulama berinisitif untuk mendirikan perguruan tinggi Islam sebagai kelanjutan dari SP Singoleksono. Namun, tidak seluruh pihak sepakat atas inisiatif dari guru bangsa tersebut.

“Ada beberapa teman yang diajak untuk mendirikan lembaga itu, setengahnya ya menghalang-halangi. Pak Arif kan di Kediri sudah ada IAIN, tapi kenapa kok membangun IAIN di sini (Tulungagung, Red),” katanya menirukan ucapan rekan sang kiai.

Kendati demikian, KH Arief Mustaqiem tetap berpegang teguh dengan pendiriannya. Pendirian tersebut pun berbuah manis dengan disetujuinya pendirian perguruan tinggi negeri setingkat fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Tulungagung.

 Baca Juga: Kursi Rektor UIN SATU Tulungagung Beralih ke Abdul Aziz, Mantan Rektor Kembali jadi Dosen

Peresmian pun dilakukan bersama-sama SP IAIN (dari SP Singoleksono) pada Jumat, 1 Jumadil akhir 1388 H, bertepatan dengan 26 Juli 1968, oleh Menteri Agama RI KH Achmad Dahlan. “Ya akhirnya berdiri sampai sekarang itu,” paparnya.

Perjuangan KH Arief Mustaqiem dalam mendirikan perguruan tinggi agama di Tulungagung berbekal konsistensi dan keikhlasan. Beliau juga tidak berangkat dari modal dana yang besar, tetapi bermodal kekayaan ilmu yang ditempuh sedari kecil.

“Kondisi perekonomian Pak Arief ketika itu tak bisa dibilang sejahtera. Tapi karena ilmu, semangat, dan keikhlasannya murni untuk mendirikan lembaga pendidikan,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Haidar ini mengisahkan, KH Arief Mustaqiem sempat memiliki satu bidang tanah yang kemudian menjadi sengketa sehingga disuruh mengurus administrasinya dan dijual. Setelah terjual, KH Arief Mustaqiem langsung menyalurkan uang penjualan tanah tersebut untuk pembangunan lembaga pendidikannya. Diketahui, jumlah uang tersebut jika digambarkan dengan kondisi saat ini dapat digunakan untuk membeli 5 buah mobil.

“Setelah dijual dengan nilai uang yang banyak, jangankan menghitung, melihat uangnya saja tidak. Langsung disuruh untuk membangun sekolah saja. Nilainya itu kalau untuk membelikan mobil atau motor satu per satu anaknya saja cukup, sedangkan dia hanya mengendarai sepeda motor Supra putih,” jelasnya.

Kemudian, riwayat pendidikan KH Arief Mustaqiem sendiri mayoritas ditempuh dalam pendidikan pondok pesantren. Ketika kecil, beliau menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Selanjutnya di Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Lalu, menempuh pendidikan perkuliahan di UIN Raden Mas Said Surakarta dan berlanjut hingga ke Mesir.

“Selain ahli dalam ilmu pengetahuan, beliau juga dikenal sebagai pendekar yang ahli dalam bela diri,” pungkasnya. (*/c1/rka)

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#kh arief mustaqiem #UIN 1 Tulungagung #UIN SATU #uin tulungagung