Kerajinan ecoprint merupakan kerajinan yang kini mulai banyak diminati. Selain ramah lingkungan, motif yang dihasilkan lumayan menarik. Pun warna yang dihasilkan lebih estetik dan terkesan alami. Tergantung jenis daun yang digunakan.
MILA INKA DEWI, Srengat, Radar Blitar
Kerajinan ecoprint berbeda dengan batik. Perbedaan itu terlihat pada teknik pembuatannya.
Kerajinsn ecoprint dibuat dengan mengaplikasikan daun atau bunga pada selembar kain untuk dijadikan motif.
Banyak cara yang bisa digunakan untuk membuat kerajinan ecoprint. Salah satunya dengan metode steam atau kukus. Metode lain seperti pounding atau dipukul dan boiling atau direbus.
”Ya, kalau boiling, warna atau motifnya akan abstrak. Yang pounding sebenarnya akan lebih rapi, tapi membutuhkan proses pengerjaan yang lama. Sedangkan kukus, hasilnya akan mudah luntur,” jelas salah satu perajin ecoprint, Ary Masithoh Karimah.
Namun, ada cara agar warna menjadi lebih rapid dan bagus ketika membuat kerajinan ecoprint. Yakni, mengunci terlebih dulu motif dan warnanya.
Ada berbagai bahan yang bisa dimanfaatkan untuk motif ecoprint. Seperti bunga, daun, tangkai maupun akar. Kerajinan ecoprint bisa dikatakan sebagai kerajinan mencetak daun.
Meski begitu, nembuat kerajinan ecoprint tetap harus memperhatikan jenis kain yang digunakan. Kain kanvas, katun, dan sutra bisa menjadi pilihan untuk dijadikan media ecoprint.
Untuk membuat kerajinan ecoprint, siapkan selembar kain putih dengan ukuran sesuai selera pada alas plastik.
Selanjutnya, susun daun atau bunga yang sudah dipilih. ”Pada dasarnya, semua jenis bunga atau daun dapat digunakan. Tapi ketajaman warna yang dihasilkan berbeda,” jelas warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar ini.
Setelah itu, tutup kembali dengan plastik, gulung seperti lontong, dan ikat dengan rapat. Kukus dengan air yang sudah mendidih dengan api sedang.
Biasanya butuh waktu sekitar 2 jam agar warna yang dihasilkan tajam. Jika warna dirasa sudah keluar secara sempurna, angkat dan peras gulungan kain tersebut hingga cukup kering.
Bentangkan kain dengan kondisi masih diselimuti plastik. Lalu, injak-injak atau press bagian motif yang terdapat tangkainya agar menghasilkan motif yang lebih jelas dan flat dengan kain.
Setelah itu, bersihkan daun yang masih menempel. Kain untuk kerajinan ecoprint yang sudah jadi harus diangin-anginkan kurang lebih seminggu di tempat teduh.
Setelahnya, barulah ecoprint dapat dikunci warnanya dengan zat pengunci yang diplih. Terakhir, bilas kain dan jemur kembali di tempat teduh hingga kering. “Warna yang dihasilkan oleh daun maupun bunga akan menurun sekitar 25 persen setelah proses penguncian,” tuturnya.
Kain untuk kerajinan ecoprint bisa dibuat menjadi pakaian. Pun bisa diaplikasikan di berbagai media lain.
Seperti sepatu, tas, topi, dompet, tempat tisu, dan sebagainya. Tentunya dengan teknik yang berbeda-beda. Sebab, setiap media pasti mempunyai metode dan tingkat kesulitan masing-masing. (*/c1/sub)
Editor : Didin Cahya Firmansyah