TULUNGAGUNG - Tempat sampah yang dijual oleh Bambang Mural, warga Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru memang agak berbeda dari yang lainnya.
Tempat sampah yang dia jual itu memiliki corak dan gambar yang bervariasi. Diyakini cara tersebut mampu menambah daya tarik pembeli terhadap produknya itu ketimbang tempat sampah lainnya.
Masih ada sekitar 10 tempat sampah yang dipamerkan Bambang Mural di depan rumah, sebagian masih tersimpan di sudut ruang tamu.
Tempat sampah dengan bentuk yang serupa, namun gambar yang bermacam-macam. Ada bergambar hewan ada juga bergambar hal lainnya.
“Sisa segini ini mas dari seratus tempat sampah sejak tiga bulan yang lalu. Lumayan berjalan usaha ini,” jelas Bambang, sapaan akrab pria tersebut saat ditemui di rumahnya Selasa (2/1/2024).
Dia menyebut usahanya itu dimulai sejak empat bulan yang lalu, termasuk belum lama. Namun sudah puluhan tempat sampah dengan beragam warna berhasil dikeluarkan.
Cara pemasarannya pun sangat sederhana, pertama dengan mengandalkan kenalan serta memamerkan produknya didepan rumah.
Masyarakat yang melintasi jalan Jayeng Kusuma yang merupakan jalan salah satu jalan nasional di Tulungagung barang pasti sangat mudah melihatnya.
“Kadang ada satu atau dua orang dalam sehari yang mampir terus membeli tempat sampah bergambar ini. Tidak pasti sih tapi kalau di rata-rata dalam sehari itu ada satu tempat sampah yang laku,” ungkapnya.
“Itu jauh lebih bagus lo ketimbang tempat sampah polos karena untuk skala rumahan ini bisa tiga bulan untuk laku satu tempat sampah,” sambung Bambang.
Dalam proses produksinya, Bambang tidak memulai dari awal. Dia hanya mempercantik tempat sampah polos yang dibeli dari salah satu rekan bisnisnya.
Dengan cara itu, nilai ekonomi dari sebuah tempat sampah bisa meningkat dengan sentuhan seni yang diberikan.
“Saya ambil tempat sampah polos dari teman saya, harganya 35 ribu untuk satu buah. Lalu saya jual seharga 80 ribu ketika tempat sampah ini sudah bergambar,” paparnya.
Tapi jangan sangka, tidak semua orang bisa membuat produk tempat sampah seperti yang dijalankan Bambang. Karena pria tersebut sebenarnya sudah sejak lama menjadi seorang pelukis mural.
Berbekal kemahirannya dalam seni yang berhubungan dengan cat, tentunya sangat mudah bagi Bambang untuk mencoba memulai menggambar dengan media tempat sampah.
Jika ada pesanan dalam jumlah banyak, Bambang bisa mengerjakan 20 tempat sampah bergambar dalam sehari.
Sedangkan untuk satu buah saja, mungkin hanya membutuhkan waktu 30 menit sampai 1 jam untuk mengerjakan dengan menggunakan airbrush.
“Cepat kok prosesnya untuk menggambar ini, tidak lama,” tegasnya.
Sedangkan untuk kualitasnya, Bambang memastikan gambar pada tempat sampah yang dia jual mampu bertahan lama. Minimal dalam hitungan tahun karena standarnya sama dengan cat mobil.
Seperti saat finising, tempat sampah yang diproduksi juga ditambah dengan proses pernis sehingga kualitasnya lebih bagus lagi.
“Sebenarnya saya itu mengincar pasar pesanan untuk pengadaan tempat sampah untuk instansi. Karena pada kota besar sudah begitu, pengadaan tempat sampah hampir semuanya bergambar seperti ini,” katanya.
Selama empat bulan berjalan, tempat sampah bergambar yang diproduksi telah masuk ke ranah sekolah bahkan sudah ada pesanan dari luar pulau yakni dari Medan, Sumatera Utara.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra