TULUNGAGUNG - Jiwa seni berada dalam diri Adinda Septiani Cahyono. Buktinya, meski masih berstatus pelajar sekolah menengah atas, dia mampu menguasai berbagai hal.
Beberapa di antaranya yang digeluti Adinda Septiani Cahyono yakni, menari, modeling, bahkan tarik suara. Semua dilakoni penuh semangat.
Perjalanan Adinda Septiani Cahyono, dara cantik kelahiran 2 September 2007 itu bermula dari seni tari. Kemudian, mulai merambah modeling. Sampai akhirnya belajar bernyanyi.
Karena keahliannya itu, dia termasuk siswa multitalenta. Jadi diri sendiri tanpa harus mengikuti gaya orang lain, menjadi pedoman hidupnya.
"Awal mulanya itu saat ada hajatan, saya menyumbang lagu. Ternyata mendapatkan respons bagus dari masyarakat.
Nah, sejak saat itu mulai mendapatkan tawaran menyanyi di acara hajatan,” ungkapnya.
Karier Adinda terus meroket. Dia kerap tampil menyanyi dalam berbagai acara. Tapi, perjalanannya juga tidak mudah.
Dia kerap mendapat cibiran atau sindiran dari rekan sekolah. Kondisi tersebut sempat membuat mentalnya down.
"Sindiran dari netizen sempat membuat mental saya down. Tetapi berkat support dari guru, orang tua, dan orang terdekat, membuat saya bisa bangkit lagi,” ujarnya.
Meski kini sudah sukses, Adinda tak lantas melupakan sekolah. Itu sesuai nasihat orang tuanya.
Yakni, selalu memprioritaskan pendidikan. Dengan begitu, banyak ilmu yang didapat untuk bekal masa depan.
Nah, dara manis itu juga tergabung dalam grup dance Sky New Management. Karena itulah, dia harus pandai mengatur waktu antara sekolah dan kegiatan lainnya.
"Selain tawaran menyanyi, saya kerap mendapatkan tawaran menari tradisional di Kesenian Jaranan Senterewe, bahkan sering berperan menjadi penari celeng putri,” tutur siswa kelas X SMAN 1 Kauman itu.
Pengalaman tersebut menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Sebab, menjadi bisa bersama-sama menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa.
Bagi Adinda, dalam setiap penampilannya, dia harus bisa menjadi diri sendiri. Ini agar bisa menjadi ciri khas yang membedakan dirinya dengan orang lain.
“Jangan pernah menunggu contoh, baru bergerak mengikuti. Akan tetapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti,” tandasnya. (nik/c1/wen).
Editor : Intan Puspitasari