TULUNGAGUNG - Semenjak istirahat dalam mengabdi kepada negara sebagai seorang TNI, Laksda (Purn) Harry Yuwono memilih pulang ke Tulungagung.
Mulai tahun 2018 yang lalu, pria yang akrab disapa Bopo Harry itu tetap ingin mengabdikan dirinya namun untuk dunia seni dan budaya di Kota Marmer ini.
Dalam keyakinannya, seni dan budaya yang terus di uri-uri nantinya bisa diandalkan untuk kemajuan daaerah.
Asam garam sebagai seorang prajurit telah dirasakan oleh pria lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1977 itu.
Penugasannya telah terbilang lengkap, mulai di lapangan yang mencakup seluruh Indonesia, pernah bertugas di Mabes TNI, hingga terakhir bertugas di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia.
Pangkat terakhirnya di satuan TNI AL adalah Laksamana Muda (Laksda) atau jenderal bintang dua.
Setelah malang melintang di berbagai penugasan itu, akhirnya Bopo Harry memilih pulang ke Tulungagung sejak sekitar 2017 lalu.
Dia sendiri diberikan sebuah tanah warisan dibilangan Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru yang dirubahnya sebagai sebuah tempat dengan berbagai fungsi bernama Lotu’s Garden.
“Tahun 2018 tempat ini mulai berdiri. Saya itu ingin agar lahan ini tidak mubadzir dan bisa digunakan untuk kegiatan seni, budaya dan religi,” paparnya.
Jika dilihat lebih dalam, Lotu’s Garden agak berbeda dengan café resto lainnya di Tulungagung. Tempat itu sangat sering mengadakan berbagai kegiatan yang berbau seni.
Bahkan hampir setiap bulannya selalu saja ada kegiatan seni budaya di tempat tersebut. Menurut Bopo Harry, dibuatnya Lutu’s Garden memang bukan sepenuhnya untuk komersil, melainkan ada sisi kampanye melestarikan budaya didalamnya.
“Memang ada cafe dan resto disini, tapi bukan itu yang utama, itu hanya tanbahan saja,” paparnya.
Selama ini, Bopo Harry telah bertekad untuk menguri-uri (melestarikan) seni dan budaya yang dimiliki Tulungagung agar tidak terkikis dengan budaya asing.
Dia ingin menggugah anak-anak muda Tulungagung untuk berseni dan berbudaya semampang seniman senior Tulungagung masih ada. Tentu ilmu dari seniman senior itu bisa ditularkan kepada generasi muda zaman ini.
Angan-angan itu juga mencoba menjawab tantangan zaman yang terjadi. Bopo Harry meyakini sektor seni dan budaya akan bisa diandalkan menjadi salah satu faktor kemajuan daerah.
Melihat kondisi faktual, Tulungagung mulai terdapat banyak pembangunan strategis. Sebut saja jalur lintas selatan (JLS) ataupun jalan tol Kediri – Tulungagung. Sehingga sektor seni dan budayanya sebenarnya juga harus dibangun lagi.
“Seni dan budaya itu bisa jadi andalan, kita itu punya potensi yang mungkin belum disadari. Mereka lo wisatawan yang dari luar negeri itu senang sekali dengan seni Indonesia,” katanya.
Selama kurang lebih 6 tahun berdiri, Lotu’s Garden telah melaksanakan berbagai kegiatan seni dan budaya. Mulai dari wayang orang, ketoprak, ludruk, reog, jaranan, mocopat dan seni- seni yang lainnya.
“Kalau kegiatan seni disini sudah tidak terhitung banyaknya,” katanya.
Toh, saat ini sebenarnya juga masih banyak pelaku seni dan budaya asal Tulungagung.
Hanya saja saat Pandemi Covid-19 lalu, mereka seakan mati suri karena pementasan yang sangat terbatas. Sehingga setelah pagebluk berakhir, seharusnya dunia seni budaya Tulungagung mulai digalakan kembali.
“Disini diharapkan menjadi trigger bagi yang lain. Dengan kegiatan seni yang dilaksanakan disini, nanti semua wilayah Tulungagung secara menyeluruh bisa melaksanakannya juga,” tutupnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra