TULUNGAGUNG - Produksi ribuan topi Indian, Joko Ibrahim, pria asal Ngunut Tulungagung berhasil menembus pasar internasional.
Bahkan topi Indian yang diproduksi dengan bahan dari bulu dan manik ini membuahkan keuntungan jutaan rupiah.
Tak hanya itu, dengan adanya rumah produksi dari perusahaan UD. Rajawali Hanger berhasil menyerap belasan tenaga kerja dari produksi topi Indian.
Berdandan ala suku Indian menjadi ketertarikan tersendiri lantaran seolah dibawa ke zaman dahulu. Hal inilah yang mendasari Joko Ibrahim dalam memproduksi hasta karya topi Indian. Bahkan topi Indianbuatannya berhasil menembus pasar internasional.
Pengrajin Topi Indian, Joko Ibrahim mengatakan, produksi topi Indian ini telah dia lakukan sejak tahun 2020 lalu. Namun dia juga telah minat serta berpengalaman dalam berdagang topi Indian sejak tahun 2015 silam.
Alasannya dengan mengenakan topi Indiantersebut seolah dibawa ke zaman dahulu kala. Berawal dari minat tersebutlah dia memulai untuk memproduksi topi Indian buatannya.
“Ya selain unik, dipakai itu seolah dibawa ke zaman itu. Akhirnya memutuskan untuk membuat topi Indian,” jelasnya, Rabu (21/2/2024).
Dalam satu hari saja, dia dapat membuat sebanyak 30 hingga 40 topi Indian. Yang mana topi Indian ini dia buat dari bulu-bulu hewan serta manik-manik. Tak hanya topi Indian, dia juga membuat beragam aksesoris bernuansa suku Indian.
“Dalam satu bulan itu bisa produksi sekitar seribu hingga dua ribu topi Indianbeserta aksesorisnya,” ucapnya.
Kejelian dalam memproduksi topi Indianini membuat hasil produksinya dilirik oleh pasar internasional.
Bangsa-bangsa eropa seperti Sepanyol, Belanda, Inggris dan Suriname berebut mendapatkan topi Indian miliknya.
Diketahui dalam satu minggu, pihaknya dapat mengirim sebanyak 100 topi Indian ke luar negeri.
“Yang diekspor itu setiap minggunya ada 100 topi. Ya dari Spanyol, Belanda, Inggris dan Suriname,” paparnya.
Kemudian untuk keuntungannya, untuk penjualan satu topi Indian dia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp15-20 ribu per satu topi Indiandi pasar domestik.
Lalu untuk pasar internasional, dia bisa mendapatkan keuntungan Rp30-40 ribu per satu topi produksinya.
“Langsung dijual ke konsumen tidak melalui broker. Jadi lebih mudah untuk proses pengirimannya,” ungkapnya.
Dengan adanya perusahaan UD. Rajawali Hanger yang diprakarsainya, dia dapat menyerap tenaga kerja setempat sebanyak 15 pekerja. Yang mana belasan pekerja ini dia perbantukan untuk memproduksi topi Indian tersebut.
“Dalam proses produksi, kita memperkejakan sebanyak 15 pekerja. Ada yang dikerjakan di gudang dan ada juga yang di bawa pulang,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra