TULUNGAGUNG - Peni Aditya yang biasa dipanggil Peni, adalah sosok guru inovatif yang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di SDN Beji 3, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Sudah sekitar 3 tahun menjadi sosok guru yang membimbing para siswa-siswinya. Di sela-sela kesibukannya menjadi guru bahasa Inggris, dia memiliki hobi melukis di sebuah kertas dan kanvas.
Untuk mengasah kemampuannya, selain di media kertas dan kanvas, Peni juga terus meng-upgrade skill ke illustrator, desain grafis yang berbasis digital.
Hobi ini bermula sejak SMA yang sebatas doodle art, kuliah sketsa wajah, sampai berkembang di desain grafis yang mencangkup desain banner, layout, desain menu, desain feed instagram, logo, ilustrasi, vector dan lainnya.
"Ya, kurang lebih 7 tahun sudah menekuni bidang desain grafis ini," tuturnya.
Beragam lika-liku sudah dilewati, mulai di perkuliahan mengikuti UKM KSR-PMI di Kampus UIN Satu Tulungagung, dalam divisi desain.
Mulai menggarap desain di warnet, mengikuti pelatihan BLK, dan perlahan mengikuti pelatihan sertifikasi keahlian di Jakarta dan berhasil mendapat nilai terbaik, serta mendapat sertifikat keahlian berlogo BNSP.
"Alhamdulillah, percaya nggak percaya, aku mendapatkan nilai terbaik, dan mendapatkan sertifikat berlogo Garuda," terang perempuan 25 tahun ini.
Dari situ, membuat dia lebih percaya diri dan sudah berani bersaing dengan membuat akun Instagram khusus yang menjual jasanya di sektor sketsa wajah, desain grafis dan ilustrasi.
Bahkan, pada 2023, pernah mendapat orderan yang mencapai 1.400 desain dan ilustrasi. Di mana para kliennya mulai perorangan, badan usaha, bahkan sudah merambah instansi yang ada di Tulungagung.
Misalnya, dari orderan ilustrasi Direktur Rumah Sakit dr. Iskak Tulungagung, Balai Desa Gambiran, Balai Desa Simo, Balai Desa Sendang, dan layout ilustrasi ikonik Tulungagung dan para tokoh lainnya.
Dalam pengerjaannya, dia harus membagi waktu. Pagi mengajar bahasa Inggris di SDN Beji 3, siang sampai magrib kuliah S2, dan pada waktu malam baru menggarap orderan tersebut.
"Ya, kalau dipikir-pikir itu sangat melelahkan dan tanpa dipungkiri pasti pusing, tetapi kalau dilakukan dengan santai, ya pasti enjoy dan seneng," ungkap Peni.
Dalam perjalanannya, jatuh bangun itu pasti, tapi bukan berarti membuat down. Peni harus memutar otak mencari cara promosi, merespon orderan yang naik turun.
Selain itu, juga pernah merasakan omset turun yang membuat dia cuti kuliah karena tidak ada income untuk membayar kuliah. Dan sekarang pun income juga tetap dari freelance desain grafis, karena pada dasarnya di sekolahan juga belum diangkat.
Harapannya, usaha ini tetap lancar dan bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain.
"Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik bagi-Nya. Setiap peristiwa pasti terjadi dengan hikmah-Nya. Bunga yang mekar hari ini, tidak ditanam kemarin siang. Berproseslah," ungkap perempuan ramah ini.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra