Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tiga Penderita Gagal Ginjal di Trenggalek Bisa Kembali Bangkit, Begini Penuturan Mereka

Titin Ratna Rahayu • Selasa, 12 Maret 2024 | 16:05 WIB
TULARKAN SEMANGAT : Yohanita, Andik Yuliastanto (kiri), Eko Cahayanto (dua dari kanan) dan Andi Prasetyo (paling kanan) menceritakan pengalaman mereka
TULARKAN SEMANGAT : Yohanita, Andik Yuliastanto (kiri), Eko Cahayanto (dua dari kanan) dan Andi Prasetyo (paling kanan) menceritakan pengalaman mereka

 

TRENGALEK- Semua pasien penderita gagal ginjal kronis pasti merasa down saat mendengar vonis atas sakit yang mereka derita. Namun tiga orang dengan gagal ginjal dari Trenggalek ini, kini kembali bersemangat menjalani rutinitas harian mereka.  Ada yang kembali bertugas sebagai polwan, menjadi staf di BPBD (badan penanggulangan bencana daerah), ada juga sebagai tukang kayu.

Peringatan hari ginjal pada Sabtu (9/3), menjadi ajang ngumpul para penderita gagal ginjal kronis di Trenggalek. Mereka tergabung dalam Paguyuban Hemodialisa Trenggalek. Kesempatan ngumpul ini pun dimanfaatkan untuk sharing pengalaman mereka bisa tetap survive hingga kini.

Dibalut dalam acara talkshow dipandu Kepala Ruang Instalasi Hemodialisis RSUD dr. Soedomo Trenggalek Andik Yuliastanto, tiga orang dengan gagal ginjal itu, satu per satu menceritakan awal mula sakit sampai bisa bangkit kembali dan terlihat bugar seperti saat ini.

Dimulai dari Yohanita Rahmawati, 38, warga Desa Wonocoyo yang berdinas sebagai polisi wanita di Polsek Gandusari, Trenggalek. Perempuan berperawakan tinggi ini jatuh pingsan pada Juli 2021 lalu. Awalnya Nita, begitu dia akrab disapa, merasa badannya lemas.

“Tiba-tiba saya pingsan, lalu setelah sadar badan rasanya tidak seperti semula lagi, lemas dan tidak bisa beraktivitas normal. Apalagi disampaikan kalau ginjal saya kena. Itu rasanya sudah, aduh bagaimana ya. Saya tidak bisa menerima, wis pokoknya ndak karu-karuan rasanya,” ucap Nita.

Merunut dari kesehatan sebelum sakit, diduga hipertensi menjadi pemicu kerusakan pada ginjal Yohanita. Dengan kondisi badan lemah, secara psikologis Yohanita tidak bisa menerima keadaan sakitnya kala itu. Dia pun sempat marah dan berontak saat menjalani perawatan. Namun dengan pelayanan yang ramah dan kesabaran dari perawat dan dokter, Yohanita bisa melalui proses dialisis di RSUD dr Soedomo.

Nita setidaknya 20 kali menjalani hemodialisa di RSUD dr. Soedomo Trenggalek, sampai kemudian melanjutkan perawatan dengan metode CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis). Jika hemodialisa dengan mesin dibutuhkan waktu sampai lima jam, metode CAPD bisa dilakukan secara mandiri oleh pasien. Metode CAPD dengan cara membuat lubang di perut yang berfungsi untuk mengganti cairan dialisat yang berfungsi mengangkut zat sisa– sisa metabolisme dalam darah. Cairan ini kemudian dikeluarkan lagi lewat selang.

“Lebih mudah, biasanya istirahat siang saya pulang, karena tempat kerja dekat dengan rumah. Saya ganti cairan, karena harus ganti empat kali dalam sehari. Selesai saya bisa kembali kerja lagi,” tutur Nita.

Kini dia pulang pergi kerja dengan bersepada motor sendiri. Begitu juga saat hadir ke RSUD dr Soedomo, bersepeda motor sendiri. “Alhamdulillah sekarang sudah makan apa saja, bahkan makan durian meskipun sedikit. Sekarang bobot saya sudah 80 kilogram, dulu kecil hanya 60 kilogram,” ujar Nita sembari tersenyum semringah.

Pengalaman yang sama juga dirasakan Eko Cahayanto, 39, pegawai BPBD Trenggalek. Waktu itu, 9 September 2022, dia mengantar kerabat yang sakit berobat. Namun malah dirinya yang jatuh pingsan di Puskesmas Pogalan.

Setidaknya Eko menjalani lima kali dialysis, namun tidak semuanya berjalan lancar. Sempat dua kali Eko pingsan saat menjalani dialysis dan mengira dirinya sudah hampir meninggal dunia. “Waktu awal sakit saya sampai putus asa, kok bisa saya sakit seperti ini. Tapi begitu melihat semangat sesama pasien lain seperti Bu Yohanita, saya juga kembali semangat,” ucap Eko.

Kini dia juga menggunakan metode CAPD. “Selesai pasang alat saya dibolehkan makan apa saja, waktu itu saya tidak langsung pulang, tapi ke warung padang, langsung saja saya makan nasi padang,” ujar Eko.

Sementara Andi Prasetyo, 43, kini mengaku lebih peduli dengan pola hidup sehat. Awalnya Andi tidak langsung terdeteksi gagal ginjal. Karena keluhan awal yang dirasakannya badan terasa capek, sesak, ada batuk serta gatal. “Saya bawa ke dokter hasilnya malah ndredeg (jantung berdebar). Lalu ganti ke tempat pengobatan lain kok tidak ada hasilnya. Saya pindah lagi lalu disampaikan saya kena jantung. Tapi saya tidak yakin kalau disampaikan kena jantung,” ujarnya.

Saat dirujuk ke RSUD dr. Soedomo, baru diketahui bahwa Andi bermasalah dengan ginjal. Setidaknya sembilan kali dia menjalani dialysis, saat kelima dia mengaku baru bisa merasakan makan enak. Sebelumnya, sering muntah setelah makan.

Akhirnya Andi juga berganti ke CAPD. Hanya saja saat dinyatakan boleh memakan apapun, Andi sempat kebablasan. “Saya makan kurma, pisang, mangga dan jambu di waktu yang hampir bersamaan. Akhirnya langsung sesak, dua minggu saya baru bisa pulih lagi,” ucap Andi.

Dulu saat masih lemah, Andi merasa seperti tidak punya tulang. Kini dia kembali menjalani rutinitasnya sebagai tukang kayu, membuat mebelair. “Sekarang makan diperhatikan, juga termausk menjaga kebersihan badan. Jika kerja berkeringat ya mandi. Semuanya harus dijaga dengan baik,” tandas Andi.(*/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#hemodialisis #trenggalek #gagal ginjal