Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenal Candra Prasetyo, Perajin Wayang Kulit Asal Tulungagung yang Memiliki Niat Mulia untuk Budaya

Dharaka R. Perdana • Senin, 25 Maret 2024 | 21:05 WIB
candra pasetyo.
candra pasetyo.

TULUNGAGUNG - Selama 14 tahun Candra Prasetyo menekuni kerajinan wayang kulit. Meskipun dianggap ketinggalan zaman, tapi pria asal Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, ini bertekad untuk terus melestarikannya. Bahkan, karyanya laku hingga ke Negeri Jiran.

Menekuni sebuah kesenian tidak melulu mengandalkan darah seni dari keluarga. Ada kalanya itu tumbuh dari keinginan pribadi seseorang untuk turut melestarikan.
Hal inilah yang dijalani Candra Prasetyo.

Pria asal Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru, ini lebih dari satu dekade atau tepatnya 14 tahun menekuni pembuatan wayang kulit. Padahal, aktivitasnya tersebut bermula dari menonton televisi yang menyiarkan siaran pergelaran wayang kulit.

“Awalnya dulu sering diajak mbah kakung melihat wayang di televisi. Lama-lama kok ingin terjun ke dunia pewayangan,” katanya.

Pria 37 tahun ini tak menampik jika di keluarganya tidak ada yang menjadi seniman. Alhasil, dia pun harus belajar dari nol agar menghasilkan karya yang benar-benar bagus dan diterima pasar.

Bahkan, dia juga pernah belajar pada Mbah Jamus dari Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru.

“Saya banyak belajar dari beliau. Apalagi membuat tokoh wayang itu membutuhkan ketelatenan. Kalau sedang tidak mood, tentu hasilnya tidak karuan,” ungkapnya.

Untuk membuat wayang berkualitas jempolan, Candra membutuhkan waktu hingga sebulan. Sementara untuk yang biasa paling tidak membutuhkan dua minggu.

Umumnya, karyanya adalah tokoh bercitra positif periode Ramayana maupun Mahabharata. Tokoh-tokoh jahat seperti raksasa jarang digarapnya.

Karyanya pun sudah melanglang ke mancanegara. Karena dia cukup sering mendapat pesanan dari pekerja migran Indonesia (PMI) asal Tulungagung. “Pernah juga mendapat pesanan dari Sumtera, Lombok, dan Flores,” terangnya.

Candra pun tak menampik jika generasi muda sepertinya sudah jarang yang menyukai wayang. Namun, dia tidak mau berkecil hati dan bertekad untuk terus melestarikannya. Apalagi, wayang memiliki filosofi hidup yang tinggi sebagai kesenian peninggalan nenek moyang.

“Saya sendiri menjadikan wayang sebagai tuntunan hidup agar tidak salah arah dalam hidup. Hal inilah yang bisa saya serap dari setiap lakonnya,” tandasnya.(*/c1/rka)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#candra pasetyo #wayang kulit