Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Impian Mas Boy tentang Masa Depan Pertanian, Peternakan dan Perikanan

Wawan Susetya • Sabtu, 6 April 2024 | 02:16 WIB
Impian Mas Boy tentang Masa Depan Pertanian, Peternakan dan Perikanan.
Impian Mas Boy tentang Masa Depan Pertanian, Peternakan dan Perikanan.

MENJADI petani di era digital atau era globalisasi seperti sekarang ini, terutama bagi para sarjana atau mereka yang pernah mengenyam di bangku pendidikan tinggi di perguruan tinggi nampaknya sangat sulit.

Selain banyak orang yang merasa gengsi karena menganggap pekerjaan sebagai petani dianggap tidak prestise, profesi menjadi petani juga dianggap merupakan pekerjaan berat atau kasar.

Apalagi, penghasilan para petani kebanyakan di bawah standar terutama bagi para petani padi yang dianggap sangat monoton saja.

Meski banyak pandangan atau asumsi seperti itu, namun hal itu tak berlaku dalam kamus hidup dua orang pemuda Sarjana seperti Gigih Kristanto, warga desa Kendalbulur, Kec. Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Meski ia seorang sarjana, namun boleh dibilang sangat all out dalam bergelut sebagai petani di desanya.

Bagi Gigih Kristanto yang akrab dipanggil Mas Boy itu, bertani atau menjadi petani itu bukan soal hobi atau selera pekerjaan. Lebih dari itu, menjadi petani itu tak ubahnya sebagai panggilan karena menjadi penyangga terhadap kedaulatan pangan bangsa kita. Sebab, hanya petani-lah yang dapat memenuhi atau mencukupi bahan pangan seperti padi jagung ketela dan sebagainya.

“Mohon maaf, maksud saya bukan berarti saya yang termasuk petani minta dihormati, sama sekali tidak. Tetapi sudah semestinya kita semua saling menghormati dan menghargai, jangan memiliki stigma seperti yang sudah-sudah dengan melihat petani selalu ketinggalan. Dan kenyataannya, selama ini para petani hanya dipakai kalah-kalahan saja,” tutur Mas Boy sembari menyindir mengenai kebijakan yang diambil oleh pemerintah terhadap petani.

Namun, lulusan Sarjana jurusan Ilmu Pertanian UB (Universitas Brawijaya) Malang itu pun juga mengapresiasi atas kesigapan pemerintah dengan mengucurkan bansos (bantuan sosial) kepada para petani terutama ketika menghadapi bencana yang dihadapi petani, seperti El Nino, perubahan cuaca yang berdampak pada kekeringan dan sebagainya.
Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai petani, Mas Boy memang bertani sebagaimana para petani lainnya.

Seperti umumnya ketika musim penghujan kebiasaan para petani menanam padi dan pada musim kemarau menanam palawija seperti jagung atau tembakau. Hanya saja, Mas Boy memang memiliki berbagai macam kiat atau cara dengan menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, ketimun, terong, lombok, buncis dan tanaman lainnya di sela-sela tanaman musim kemarau. Demikian halnya ketika musim penghujan ketika menanam padi.

Dalam bertani, Mas Boy hanya menggarap lahan persawahan yang tidak terlalu luas yaitu sekitar 175 ru sebagai warisan dari orang tuanya. Meski almarhum orang tuanya sebagai PNS dua-duanya, ayahnya mantan pegawai di Dinas PU (Pekerjaan Umum) dan ibunya seorang guru SD, namun Mas Boy seperti merasa mendapat panggilan hati untuk bekerja sebagai petani.

Maka, karena lahan pertaniannya tidak terlalu luas, dalam permodalan bertani, Mas Boy hanya mengajukan pinjaman program KUR (kredit usaha rakyat) BRI (Bank Rakyat Indonesia) Unit Boyolangu Tulungagung sebesar Rp 10 juta.

Ketika ditanya mengapa tidak mengambil program pinjaman KUR BRI yang lebih besar? Menurut Mas Boy, hal itu dimaksudkan hanya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan lahan pertaniannya yang tidak terlalu luas.

Terhadap hasil pertaniannya seperti ketimun, buncis atau kacang panjang yang tak terlalu banyak, kadang-kadang Mas Boy bersama istri dan dua orang putrinya yang masih kecil-kecil menjualnya ke bakul di Pasar Ngemplak Tulungagung. Atau kalau tidak begitu, ia menjualnya ke Pasar Bandung.

Meski menjadi petani perlu bekerja keras dan membutuhkan managemen dalam pengelolaan permodalannya, namun bagi Mas Boy bertani itu bisa membuatnya sangat nyaman. Menyatu dan mengelola alam secara langsung seolah-olah ia sudah menjadi Sang khalifah di muka bumi dalam pengelolaan tanaman seperti sayur-sayuran dan sebagainya.

“Entahlah, ini terasa sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata bahwa menjadi petani itu terasa sangat mulia bagi saya. Maka saya memimpikan masa depan pertanian termasuk peternakan dan perikanan itu akan mengalami kejayaan pada masa mendatang. Semoga kelak bisa terwujud,” harap laki-laki yang kini sudah memiliki dua orang anak perempuan itu.

Boleh jadi itu merupakan impian dari Mas Boy, yakni dengan mengangan-angan bahwa para petani kelak akan menjadi mulia. Memang, selama ini profesi sebagai petani sama sekali tidak dianggap.

Sebuah profesi yang tidak memiliki kelas sekali, sehingga dalam kebijakan pun kerapkali dijadikan sebagai obyek penderita semata. Dan, selama ini hampir tidak ada yang membela posisi petani. Itulah sebabnya posisi petani selalu dalam keadaan lemah, bahkan sering dijadikan kalah-kalahan saja.

Senada dan seirama dengan pemikiran Mas Boy, ternyata hal seperti itu sudah diduga sekaligus sangat diharapkan oleh tokoh spiritual KH Said Abdullah Kediri. Menurut penasihat spiritual alm. KH Hasyim Muzadi dan Gus Sholah (KH Sholahuddin Wahid) tersebut, memang selama ini bidang pertanian, peternakan dan perikanan selalu ketinggalan, bahkan sama sekali tidak diperhitungkan.

“Padahal bidang pertanian, peternakan dan perikanan itu semuanya merupakan SDA (sumber daya alam) di Nusantara yang sangat potensial. Saya berkeyakinan insyaallah pada masa yang akan datang, entah kapan, justru bidang-bidang itu (pertanian, peternakan dan perikanan) itulah yang menempati papan atas. Jadi sepertinya berbalik 180 derajat. Yang semula dihinakan atau direndahkan, kelak akan dimuliakan dan paling sejahtera,” harap KH Said Abdullah.

Hal itu, barangkali sinkron bahwa Nusantara itu selain identik dengan kekuatan Maritim-nya (kelautan) seperti yang sempat berjaya pada masa kejayaan Majapahit dulu, Nusantara juga dikenal sebagai negara agraris karena memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan lahan subur di berbagai pulau.

Dengan demikian, impian Mas Boy dan harapan KH Said Abdullah tersebut suatu ketika nanti dapat menjadi kenyataan. Semoga.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#features