Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suka Duka Menjadi Petani yang Dirasakan Arif Priyanto

Wawan Susetya • Senin, 8 April 2024 | 12:00 WIB
Arif Priyanto.
Arif Priyanto.

KALAU ada pemuda yang sangat getol dan gigih dalam bertani, barangkali Arif Priyanto salah satu orangnya. Bagaimana tidak, Arif yang sudah mengelola sawah orang tuanya seluas 2 kuli, sedang per kuli luasnya 175 ru sehingga menjadi 350 ru, namun ia masih menyewa lahan pertanian lagi seluas 4 kuli (700 ru = 1 hektar). Dengan demikian, ia menggarap lahan persawahan seluas 1.5 hektar.

Dalam hal ini, Arif hanya dibantu istrinya Reni saja dalam penggarapan lahan persawahan yang sangat luas itu. Tentu saja ketika musim tanam padi, Arif dan Reni juga mencari tenaga mbok-mbok (ibu-ibu) sebagai tenaga tukang tandur (tanam) padi.

Barangkali ukuran per kuli setiap desa tidak sama. Ada yang lebih luas dan ada yang lebih sempit dari ukuran 175 ru. Namun di Desa Tanggung, Kec. Campurdarat, Tulungagung ukuran per kuli-nya seluas 175 ru. Hal itu boleh jadi bergantung dari kesepakatan para pamong desa dulu ketika menentukan ukuran luas per kuli di masing-masing desa.

Begitulah kenyataannya, Arif Priyanto seperti tertantang untuk mengelola lahan pertanian di desanya bersama sang istri. Memang ia dibesarkan di lingkungan desa yang akrab dengan dunia pertanian. Ayahnya Pak Regu Siswadji adalah seorang petani tulen yang sangat luas lahan pertaniannya. Selain lahan pertanian yang digarap oleh Arif seluas 2 kuli, ayahnya Pak Regu menggarap lahan pertaniannya seluas 3 kuli.

Dari tiga orang anaknya, nampaknya hanya Arif yang mau terjun langsung ke dunia pertanian. Dua orang kakaknya, Ali Priyono lebih concern ke perikanan dengan ternak ikan komsumi (grameh, lele, patin) dan ikan hias (foranda, coy, gaby dan sebagainya), sedang kakaknya Ning seorang ibu rumah tangga.

Meski seorang Sarjana Pariwisata & Perhotelan di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, namun Arif memang lebih memilih terjun menjadi petani. Oleh orang tuanya, Pak Regu, dia diberi jatah menggarap lahan persawahan seluas 2 kuli atau 350 ru (setengah hektar) dengan ditambah lagi menggarap lahan pertanian sewa seluas 4 kuli atau 1 hektar. Sementara biaya menyewa per kuli-nya Rp 4 juta, sehingga biaya sewa keseluruhan sebesar Rp 16 juta.

“Kalau sesuai dengan disiplin ilmu yang saya pelajari, semestinya saya bekerja di hotel. Namun, setelah saya tahu apa dan bagaimana kebiasaan orang yang menginap di hotel, maka saya jadi gak ingin bekerja di hotel. Lebih baik saya menjadi petani biasa seperti orang tua saya saja,” ujar Arif Priyanto kepada Radar Tulungagung belum lama ini.

Seperti tradisi para petani di Tulungagung dan sekitarnya, ketika pada musim penghujan biasanya menanam padi, sementara pada musim kemarau menanam palawija seperti tembakau atau jagung. Dalam hal ini Arif pun juga mengikuti tradisi bertani seperti petani pada umumnya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, nampaknya sudah mulai banyak para petani di daerah Tulungagung yang bereksperimen dengan menanam brambang (bawang merah) dan bawang (bawang putih). Arif pun juga pernah mencoba menanam tanaman lain seperti buah semangka, melon dan lombok ketika musim kemarau. Pernah pula menanam ketimun sebagai selingan.

Tanaman-tanaman buah seperti semangka dan melon maupun sayuran seperti bawang merah dan bawang putih termasuk lombok, bila produk ketika panen jumlahnya sedikit niscaya harganya menjadi sangat mahal. Hal itu sesuai dengan hukum ekonomi, bila produk barang yang tersedia di pasaran sedikit niscaya harganya menjadi mahal. Sebaliknya bila produk barang yang tersedia di pasaran melimpah, maka harganya menjadi murah.

“Saya kadang-kadang memang tergelitik dan sangat berharap ketika menanam buah atau sayuran, tiba-tiba harganya menjadi sangat mahal karena persediaan di pasaran sedikit. Tapi, ternyata hal seperti itu sangat susah,” tutur Arif sembari menceritakan bahwa dia juga pernah mengalami kegagalan dalam bertani.
Menjadi petani memang hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Misalnya ketika ia menanam lombok dalam jumlah besar, ternyata tiba-tiba harga di pasaran turun drastis. Harga lombok dari petani yang semula berkisar Rp 20 ribu per kg, namun tiba-tiba anjlok hingga di bawah Rp 5 ribu. Pada situasi seperti itu biaya ongkos tenaga untuk memanen saja saja tidak impas, maka lombok-lombok itu dibiarkan saja di sawah.

“Ya kalau ada tetangga mau bikin sambal silahkan ambil lombok di sawah saya sepuasnya,” kata Arif mengenang ketika harga lombok sangat lesu.

Demikian halnya tanaman buah seperti semangka dan melon serta sayuran seperti bawang merah dan bawang putih harga ketika panennya cenderung berubah-ubah. Tidak stabil. Selain itu tanaman tembakau juga gampang berubah atau tidak stabil.

Hal itu tentu saja membuat para petani, termasuk Arif harus ekstra hati-hati ketika menanam buah dan sayuran serta tembakau yang biaya perawatannya sangat mahal. Sementara harga tanaman yang cenderung stabil yaitu padi dan jagung yang merupakan bahan pangan kebutuhan pokok. Hanya saja, keuntungan menanam padi dan jagung memang relatif kecil atau standar.

Oleh karena itu, dalam bertani Arif yang sering mengikuti tradisi menanam sesuai musimnya; bila musim penghujan menanam padi, sedang kalau kemarau menanam jagung.

Ketika ditanya mengenai permodalan menggarap persawahannya yang cukup luas, Arif berterus-terang ia juga mengikuti program KUR (kredit usaha rakyat) dari bank BRI.

“Saya mengikuti program KUR BRI, tapi tidak banyak kok. Saya hanya ambil Rp 10 juta saja untuk menambah usaha pertanian saya,” katanya kemarin.

Ia berterus-terang, meski menjadi petani tergolong kurang diminati oleh kebanyakan orang, namun Arif memiliki perspektif tersendiri. Bagaimana pun ketika Arif terjun menjadi petani dengan bersinggungan dengan alam secara langsung, ia tidak dapat menafikan bahwa hatinya cenderung merasa ayem-tentrem.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#bri #arif priyanto #petani