TAK selamanya orang yang bergelut dalam dunia usaha atau bisnis itu hanya melulu mengejar keuntungan (laba) semata, tetapi juga ada muatan cinta, empati atau kepedulian sosial.
Itulah yang dilakukan oleh pasangan Pak Suwadji dengan Ibu Robiatin ketika membuka usaha menyediakan kebutuhan sembako (sembilan bahan pokok) di Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Kec. Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur.
Memang, lokasi Dusun Kedungjalin tersebut cukup jauh masuk ke pelosok kampung dengan melewati persawahan yang luas dan jalanan di lereng pegunungan Walikukun yang membentang ke timur dari Desa Sanggrahan Kec. Boyolangu hingga Kec. Rejotangan (Tulungagung paling timur). Jaraknya dari Dusun Kedungjalin ke kota Tulungagung diperkirakan 12 km.
Karena melihat situasi dan kondisi daerahnya yang jauh dari pertokoan seperti itu, tak ayal banyak warga Kedungjalin yang merasa kesulitan hanya sekedar untuk belanja kebutuhan sembako. Begitu pula kalau mau ke Pasar Bendil Wungu juga lumayan jauh, yakni sekitar 6 km.
Dari situlah empati dan kepekaan sosial Pak Suwadji muncul, sehingga timbullah suatu inisiatif atau gagasan untuk membuka usaha menyediakan kebutuhan sembako. Tentu, niat awalnya bukan melulu mencari keuntungan atau laba semata, tetapi diniatkan untuk memudahkan warga masyarakat Kedungjalin dan sekitarnya dapat belanja kebutuhan sembako.
Sebab, bagaimanapun yang namanya sembako—yang terdiri, antara lain beras, minyak goreng, bawang merah dan putih, gula, daging, susu, telur, gas elpiji dan garam—merupakan suatu kebutuhan mutlak yang diperlukan. Katakanlah sembako tersebut merupakan suatu keniscayaan. Kebutuhan manusia untuk makan tak ubahnya seperti kebutuhan untuk minum pula.
Sebelumnya pasangan Pak Suwadji dengan Ibu Robiatin telah merantau ke Kalsel (Kalimantan Selatan) selama 12 tahun dengan menjalankan usaha berjualan tahu. Setelah dirasa cukup mendapatkan keuntungan dari usaha tahu di Kalsel, akhirnya Pak Suwadji dan Ibu Robiatin memutuskan untuk pulang kampung halaman di Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Kec. Sumbergempol, Tulungagung pada tahun 1998.
Pada momentum waktu itu pada bulan Mei 1998 ada momentum lengser keprabon-nya Presiden Soeharto yang sebelumnya didahului peristiwa krisis multidimensi pada tahun 1997.
Waktu itu pasangan Pak Suwadji dan Ibu Robiatin telah dikaruniai seorang momongan bernama Rizky Nurmansyah. Lalu, Pak Suwadji dan Ibu Robiatin membangun rumah sederhana di Dusun Kedungjalin tersebut dari keuntungan usahanya berjualan tahu di Kalsel.
Dalam pada itu, begitu Pak Suwadji melihat situasi dan kondisi di lingkungannya (Dusun Kedungjalin) yang kebanyakan warganya kesulitan hanya untuk sekedar belanja kebutuhan sembako, maka sejak itu dirintislah usaha membuka toko sembako. Gagasan membuka usaha toko sembako tersebut benar-benar karena dilatar-belakangi empati dan kepedulian sosialnya yang tinggi kepada para tetangganya.
Dan, ternyata lambat-laun toko yang dikelola pasangan Pak Suwadji dengan Ibu Robiatin tersebut mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Antara Pak Suwadji dan Ibu Robiatin melakukan job description (pembagian kerja) yang adil. Pak Suwadji bertugas belanja untuk memenuhi barang-barang dagangan seminggu sekali, sedang Ibu Robiatin menjaga toko untuk melayani para pembeli.
Seiring dengan perjalanan sang waktu, usaha toko yang menyediakan kebutuhan sembako yang dikelola Pak Suwadji dan Ibu Robiatin tersebut berangsur-angsur semakin besar.
Maklum di daerah Kedungjalin itu yang membuka usaha toko sembako hanya Pak Suwadji dan Ibu Robiatin saja. Tak ayal Pak Suwadji dan istri pun merenovasi rumah dan pertokoan yang dikelolanya semakin besar dan luas. Dan bersamaan dengan itu pula si anak semata wayangnya Rizky pun tumbuh semakin dewasa dan sudah masuk ke jenjang SMA.
Pada tahun 2017, Pak Suwadji meninggal dunia. Sejak wafatnya Pak Suwadji, mau tidak mau Ibu Robiatin harus menjadi tulang punggung keluarga dengan menjalankan usaha sembako di tokonya yang dirintis bersama almarhum suaminya Pak Suwadji.
Pada tahun-tahun berikutnya toko sembako yang dikelola Ibu Robiatin tidak semakin surut, sebaliknya justru semakin tambah besar. Hal itu terlihat ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri pesanan terhadap berbagai produk atau barang kepada Ibu Robiatin meningkat drastis.
“Maka, karena pesanan berbagai kebutuhan dari warga masyarakat semakin banyak, akhirnya saya mengajukan permodalan melalui program KUR (kredit usaha rakyat) Bank BRI sebesar Rp 50 juta,” ujar Ibu Robiatin mengisahkan awal mula mengajukan program KUR ke Bank BRI.
Dengan modal yang didapatkan dari program KUR BRI tersebut, maka Ibu Robiatin dapat melayani pesanan dan permintaan dari para pelanggannya dengan baik. Seiring dengan perkembangan waktu, Ibu Robiatin pun kini dibantu oleh putra semata wayangnya Rizky Nurmansyah yang telah merampungkan kuliahnya di kampus UIN SATU (Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung).
Dan, Rizky setelah lulus kuliah dari UIN SATU Tulungagung melanjutkan kuliah pasca Sarjana jurusan Studi Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sambil kuliah di UIN Malang, ternyata Rizky juga mulai merintis bisnis kuliner angkringan di Tulungagung dua tempat yang dikelola oleh anak buahnya.
Dan, ternyata setelah program KUR BRI tahap pertama sudah lunas, Ibu Robiatin mengajukan program pinjaman KUR BRI berikutnya sebesar Rp 50 juta. Usaha pertokoan sembako di Dusun Kedungjalin yang dirintis oleh alm.
Pak Suwadji bersama Ibu Robiatin tersebut kini sudah terlihat semakin besar dan maju. Para pelanggannya bukan hanya dari Dusun Kedungjalin saja, tetapi juga dari luar desa Junjung. Bagaimana pun, Rizky tak membiarkan ibunya Robiatin sibuk menangani toko sembako di rumahnya, sehingga kalau ada kesulitan apapun, dia pasti membantu ibunya.
Begitulah, usaha toko sembako yang digagas alm. Pak Suwadji dan Ibu Robiatin tersebut awalnya tidak melulu untuk mendapatkan laba (keuntungan) saja, tetapi lebih dari itu dimaksudkan untuk memudahkan kepada warga Dusun Kedungjalin dan sekitarnya membeli kebutuhan sembako untuk kebutuhan makan sehari-hari.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra