Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Halal-bihalal Paguyuban Trah Eyang Krama Semita

Wawan Susetya • Minggu, 28 April 2024 | 21:58 WIB
KH. Dr. M. Teguh ketika memberikan ceramah dalam Halal-bihalal Paguyuban Trah Eyang Krama Semita
KH. Dr. M. Teguh ketika memberikan ceramah dalam Halal-bihalal Paguyuban Trah Eyang Krama Semita

Paguyuban Trah Eyang Krama Semita mengadakan halal-bihalal di bulan Syawal 1445 H di rumah Rudi Santoso, Sawo, Campurdarat, Minggu (28/4).

Sekitar 150 an orang keluarga trah Eyang Krama Semita menghadiri halal-bihalal sekaligus arisan rutin tiap bulannya.

Pada kesempatan itu, H. Dr. M. Teguh, dosen UIN SATU Tulungagung memberi ceramah atau mauidhah hasanah berkenaan dengan hikmah Lebaran di bulan Syawal.

Sebagaimana di bulan puasa yang kebanyakan kaum muslimin sangat ringan menjalankan ibadah, terutama ibadah Shalat sunnah Tarawih, maka di bulan Syawal ini kaum muslimin dimudahkan untuk meminta maaf dan memaafkan. Hal itu dimaksudkan untuk melebur dosa atau menebus dosa kepada sesama umat manusia.

"Maka pada momentum Syawalan ini setidaknya ada tiga hal yang musti kita perhatikan agar menjadi hamba yang selamat," ujar Dr. Teguh seraya menguraikan pandangannya.

Pertama, kaum muslimin yang baru saja menunaikan ibadah puasa dan dilanjutkan halal-bihalal diharapkan terbebas dari dosa. Artinya dosa-dosa mereka sudah dilebur atau saling dihalalkan satu sama lainnya.
Kedua, syarat masuk surga Allah yaitu memiliki iman.

Ketiga, dalam kehidupan ini kita diharapkan selalu fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Sementara itu Pangarsa (ketua) Paguyuban Krama Semita, Ki Wawan Susetya menyinggung peringatan Hari Ibu RA Kartini tanggal 21 April.

"Setidaknya kita dapat memetik hikmah dalam peringatan Ibu RA Kartini sebagai pejuang kaum perempuan Indonesia, yakni bahwa kaum perempuan tidak hanya berkutat atau berperan domestik saja di seputar sumur dapur kasur dan pupur saja, tapi juga dapat berperan sebagai perempuan karir," ujar Wawan sembari menambahkan, hal itu sebagai bentuk aktualisasi diri.

Paguyuban Trah Eyang Krama Semita didirikan tahun 1995 dengan misi Memayu Hayuning Bawana, Memetri Budaya Jawa dan Mikul Dhuwur Mendhem Jero.

Paguyuban tersebut selain mengadakan arisan rutin tiap bulan, juga melakukan silaturahmi, kegiatan sosial dan melestarikan seni budaya khususnya krawitan dan macapatan (seni tembang).***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra