TULUNGAGUNG - Di sela kesibukannya sebagai guru bahasa Inggris, Andik Gusdianto juga aktif mengajar materi seni di sanggar miliknya.
Kecintaannya kepada seni ditambah dengan kedekatannya dengan anak-anak membuatnya sadar bahwa ilmu tidak lain hanya untuk diturunkan kepada generasi selanjutnya.
Cuaca masih terasa terik saat Andik meminta anak asuhnya berlatih materi di sanggar miliknya.
Tepatnya, di Jalan Mayor Sujadi, Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung. Alunan musik diputar berulang sambil memperhatikan murid sanggar memainkan gerakan pantomim yang jenaka.
Sesaat kemudian, dia memutuskan untuk mengganti materi belajar menjadi tari reog kendang.
“Saya mengajar sebagai GTT sejak 2008 lalu. Saya rasa ada waktu luang untuk mengajarkan materi seni di sekolah dan di sanggar saya,” kata laki-laki yang menjadi tenaga pendidik di SDN 01 Jepun ini.
Kecintaannya pada dunia seni sudah muncul sejak belia. Kala itu, Andik rajin mengulik permainan gitar dari beberapa musisi.
Singkat cerita, Andik yang sudah menjadi guru bahasa Inggris coba mengajukan diri sebagai guru kesenian di sekolah tempatnya mengajar.
“Waktu itu anak SD saya ajari ngeband. Lalu, ada kebijakan dari kepaLa dinas yang menjabat saat itu. Yaitu mewajibkan setiap sekolah mengadakan ekstrakurikuler seni reog kendang. Saya pelajari sendiri dan aKhirnya bisa saya ajarkan ke anak-anak. Itu terjadi pada 2013 lalu,” ujar laki-laki 40 tahun ini.
Itu juga jadi alasan kenapa ayah dua anak ini memutuskan untuk mendirikan sanggar seni. Ada banyak siswa SDN 01 Jepun yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP meminta jadwal khusus untuk bertemu.
Dari sana muncul ide untuk membuat paguyuban seni yang bersifat terbuka.
“Kalau sekarang yang belajar di sanggar bukan hanya siswa SD 01 Jepun. Tapi juga alumni dan pecinta seni. Kalau sekarang anggotanya sudah ratusan,” lanjutnya.
Baca Juga: Halal-bihalal Paguyuban Trah Eyang Krama Semita
Ada banyak aliran seni yang dia ajarkan kepada anak didiknya di sanggar. Mulai dari tari reog kendang, jaranan sentherewe, pantomim, karawitan, hingga musik modern. Hal serupa juga ia ajarkan saat memberi materi seni di lingkungan sekolah.
Menurut Andik, berbagi ilmu kepada generasi muda jadi kewajiban setiap orang, terutama guru.
“Jadi, kalau di sekolah ya jadi guru bahasa Inggris dan seni. Di sanggar full berkesenian. Intinya ingin tetap dengan dengan seni membagikannya kepada anak-anak,” kata laki-laki kelahiran 8 Agustus 1984 ini lantas terkekeh.
Menurutnya, hal itu juga berhubungan erat dengan upaya memupuk rasa cinta seni tradisional bagi generasi muda.
Salah satunya bisa dilakukan dengan mengajarkan seni tradisional kepada anak sejak dini.
“Anak muda Tulungagung jangan lupakan reog kendang dan jaranan sentherewe. Karena itu adalah milik kita dan harus dilestarikan,” tegasnya.
Di momen hari pendidikan nasional tahun ini, dia berharap pemerintah memberi perhatian lebih bagi para siswa di sekolah hal ini berkaitan dengan pemenuhan sarana penunjang belajar, baik yang berbentuk fisik maupun nonfisik.
“Bakat besar harus didukung dengan fasilitas. Bukan hanya alat ya. Tapi juga sarana-sarana lain sebagai bentuk perhatian bagi budaya dan generasi muda,” pungkasnya.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra