TULUNGAGUNG - Tak ingin hanya berdiam diri di rumah, Nuralifah pilih tekuni usaha kerajinan tas anyaman di Desa Tiudan Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Wanita berusia 41 tahun ini pun berhasil meraup omset yang fantastis dari penjualan hasta karyanya tersebut.
Ketika sudah menikah, urusan rumah akan menjadi tanggung jawab istri. Stigma ini tidak berlaku bagi Nuralifah.
Selain mengerjakan pekerjaan rumah, dia juga lihai menjalankan bisnisnya dalam bidang tas anyaman. Bahkan hasil produksi kerajinan tas anyaman miliknya diminati hingga luar daerah.
Perempuan asal Desa Tiudan Kecamatan Gondang ini sebelumnya belajar membuat tas anyaman dari saudaranya. Namun karena kesibukan, dia terpaksa berhenti dan melanjutkan belajar sendiri dengan modal nonton video pembelajaran pembuatan tas anyaman di platform digital.
“Jadi dulu belajar itu belum sempat bisa, akhirnya belajar sendiri dari nonton video. Alhamdulillah ternyata bisa,” jelasnya Rabu (8/5/2024).
Merasa telah lihai membuat kerajinan tas anyaman, dia mencoba peruntungan dengan mengunggah produk hasta karyanya ke platform digital.
Ternyata respon pasar baik dan dia berhasil mendapatkan orderannya pertama kali di tahun 2021 lalu.
“Ya sekarangkan sudah serba digital, saya coba tawarkan dengan mengunggah produk tas anyaman ke media sosial. Ternyata ada yang minat,” ucapnya.
Tas anyaman yang dibuat dengan bahan dasar plastik ini pun banyak memukau mata dan kepincut untuk membeli produk buatan Nuralifah. Dalam satu bulan, perempuan berusia 41 tahun ini dapat memproduksi ribuan tas anyaman.
Yang mana dia akan memproduksi tas anyaman berdasarkan orderan yang masuk. Banyaknya permintaan produk tas anyaman ini membuatnya memperdayakan ibu rumah tangga lain di sekitarnya.
“Kalau banyak permintaan itu biasanya ada 6 orang yang ikut bantu produksi tas anyaman. Dalam satu minggu bisa produksi 300an tas anyaman,” paparnya.
Permintaan pembuatan tas anyaman pun bertebaran di berbagai daerah, seperti di Kabupaten Trenggalek, Blitar, Tulungagung hingga ke Medan. Menurutnya permintaan terbanyak biasanya diperuntukkan untuk souvenir keperluan hajatan.
“Ya biasanya buat wadah untuk menaruh souvenir atau untuk naruh makanan gitu yang banyak,” jelasnya.
Kemudian untuk harganya dari produk tas anyaman hasta karya Nuralifah ini dijual dengan harga yang relatif ramah kantong. Adapun dia menjual mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 100 ribu. Bahkan omset kotor dalam satu bulan bisa mencapai Rp 10 juta dari penjualan tas anyaman.
“Harganya ya tergantung produk yang dipesan. Kalau lebih besar, banyak hiasannya dan bahannya bagus ya lebih mahal,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra