Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sarasehan Paguyuban Krama Semita Singgung Sistem Among Ki Hadjar Dewantara

Wawan Susetya • Selasa, 14 Mei 2024 | 01:29 WIB

 

Suasana para audience warga Paguyuban Eyang Krama Semita dalam sarasehan budaya.
Suasana para audience warga Paguyuban Eyang Krama Semita dalam sarasehan budaya.

Meski selama ini slogan pendidikan negara kita menerapkan Sistem Among Ki Hadjar Dewantara yaitu "Ing ngarsa sing tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani", namun yang terpampang di sekolah-sekolah selama ini hanya slogan 'Tutwuri handayani' saja.

Mengapa Sistem Among Ki Hadjar Dewantara tersebut hanya dipakai sebagian saja 'Tutwuri handayani', sedang yang yang lainnya 'Ing ngarsa sung tuladha' dan 'Ing madya mangun karsa' tidak? Padahal bagian yang tidak dipakai tersebut justru sesuatu yang sangat penting.

"Jadi wajarlah bila di dalam negara kita itu hampir-hampir tidak ada tauladan dari para pemimpin dan tidak ada gagasan dari pemimpin di level tengah," ujar Ki Wawan dalam sarasehan budaya yang diikuti sekitar 75 an orang warga Paguyuban Krama Semita.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Ki Wawan Susetya, pangarsa Paguyuban Krama Semita dalam sarasehan budaya di rumah Imam, Glotan, Desa Tanggung, Kec. Campurdarat, pada Minggu pagi (12/5).

Hal tersebut sebenarnya pernah ditanyakan langsung oleh Bambang AS selaku mantan Kepala BBPMP (Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Timur kepada Mendikbud yang saat itu dijabat oleh Muhadjir Effendy.

Rupanya Muhadjir merasa tidak nyaman atau tidak enak bila hendak mengubah slogan pendidikan sesuai Sistem Among Ki Hadjar Dewantara karena sebelum-sebelumnya juga sudah seperti itu. Artinya jika diubah dan diberlakukan di seluruh sekolah-sekolah niscaya akan membutuhkan anggaran yang cukup banyak. Di samping itu Muhadjir juga merasa tidak enak dengan para Mendikbud sebelumnya.

Selain tentang pendidikan, Ki Wawan juga menyinggung mengenai Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei.

"Momentum Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 1908 perlu kita kenang karena jasa-jasa pendahulu kita yang memiliki semangat kebangkitan, sehingga akhirnya kita dapat menggapai kemerdekaan negara kita tanggal 17 Agustus 1945," ujar Ki Wawan.

Setelah itu Ki Wawan menyebutkan beberapa organisasi pergerakan sebelum kemerdekaan, antara lain Budi Utomo, Serikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi SD (Syarikat Islam), PNI, Indishe Party, Muhammadiyah, Taman Siswa, NU, dan sebagainya.

Sementara itu Ki Suratno mengajak trah Eyang Krama Semita merasa prihatin atas kehidupan berbangsa dan bernegara yang banyak melakukan praktik korupsi kolusi dan nepotisme, mengabaikan etika, melanggar hukum & konstitusi dan sebagainya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra