TULUNGAGUNG - Bertugas sebagai salah seorang juru pelihara (jupel) Candi Sanggrahan sejak 2021 lalu, Muadin mengaku belajar banyak seluk beluk salah satu destinasi wisata sejarah.
Meski begitu, tak jarang dia dihadapkan dengan berbagai tantangan yang tak jarang menguji kepribadiannya.
Hawa terik begitu menyengat saat pewarta Koran ini menghampiri Muadin di salah satu sudut situs itu. Buku tamu warna hijau berikut bolpoin dia sodorkan sebagai penanda kunjungan wisata. Meski di waktu akhir pekan, suasana di Candi Sanggarahan kal itu tampak lengang.
"Kalau harian memang sedikit. Tapi, kalau bulanan, jumlah pengunjung bisa 300-400 orang," ucapnya.
Laki-laki yang tinggal di Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, ini mengaku bahwa dalam tiga tahun terakhir ada banyak pengalaman menarik yang dia rasakan sebagai jupel. Hal tu dia maknai sebagai sarana untuk menambah keilmuan di bidang wisata dan sejarah.
"Dulu saya bertugas di museum daerah selama delapan tahun. Lalu, oleh BPK Wilayah XI Jatim dipindahtugaskan di sini sebagai jupel. Tepatnya, pada 2021," katanya.
Secara teknis, tugas Muadin adalah untuk melakukan perawatan, pemeliharaan, pengawasan, dan sebagai pengarah bagi para wisatawan yang berkunjung di candi terbesar di Kabupaten Tulungagung itu.
"Kalau pemeliharaan itu seperti pembersihan bangunan candi, pembersihan lingkungan sekitar candi, atau perawatan fasilitas. Lalu, saya juga jadi guide bagi pengunjung," ujar laki-laki 43 tahun ini.
Selain merasa tertantang untuk memperdalam sejarah, dia juga bangga bisa menjadi pemelihara warisan leluhurnya.
Menurutnya, situs candi adalah sebuah penanda peradaban bangsa di suatu wilayah. Sedangkan, satu situs candi tidak akan ditemukan di lokasi lain. Keunikan ini yang membuatnya betah bertugas di Candi Sanggrahan.
"Iya. Rasanya bangga bisa merawat peninggalan leluhur. Rasanya hati saya terketuk untuk merawat dengan baik candi ini. Sebab, tidak akan ada lagi candi lain. Candi Sanggrahan ya hanya ada di sini," tegasnya.
Meski begitu, tak jarang dia dihadapkan dengan berbagai kendala. Hal ini berkaitan dengan adanya tingkah beberapa pengunjung yang kadang membuatnya geram.
Padahal, di situs itu sudah tertera berbagai tata tertib dan peraturan yang tegas.
"Tapi, masih banyak juga yang melanggar. Misal, pengunjung naik ke bangunan utama candi. Padahal sudah ada larangan jelas di tangga," ujar Muadin sambil menunjuk papan larangan yang dimaksud.
Ada juga sekelompok pengunjung yang nekat loncat pagar pembatas hanya untuk sekadar berfoto di area candi.
Bahkah, tak jarang dia mendapati pengunjung yang datang di luar jam kunjungan. Hal itu membuat Muadin cukup geram.
"Sebenarnya kalau ada surat pemberitahuan yang disampaikan ke dinas atau jupel, kami tetap akan melayani, walaupun di luar jam kunjung. Nah, kondisi yang sering terjadi tidak seperti itu. Mereka tiba-tiba datang bergerombol dan melanggar tata tertib," keluhnya.
Sebagai upaya penertiban, Muadin dan jupel lain terpaksa meminta para pelanggar peraturan untuk keluar dari lokasi candi. Dia mengaku menyayangkan adanya tindakan tak bertanggung jawab oleh pengunjung.
Oleh sebab itu, dia juga sering menyampaikan imbauan agar seluruh elemen masyarakat ikut menjaga dan melestarikan situs Candi Sanggrahan.
"Candi itu adalah tempat wisata yang dilindungi undang-undang. Semua harus tertib dan ikut menjaga kelestariannya," jelas Muadin.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra