MOMENTUM Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) tanggal 20 Mei 1908 yang ditandai berdirinya BUDI UTOMO oleh dr. Sutomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan tonggak sejarah penting bangkitnya organisasi pergerakan pra kemerdekaan RI.
Sebab setelah itu lahirlah berdirinya beberapa organisasi pergerakan kemerdekaan, seperti SDI (Sarekat Dagang Islam) atau Sarekat Islam oleh HOS Cokroaminoto, Indische Partij, Muhammadiyah tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Taman Siswa tahun 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara, Perhimpunan Indonesia, Ormas NU tahun 1926 oleh Kyai Hadratusy Syekh Hasyim Asy'ari, PNI oleh Bung Karno tahun 1927 dan sebagainya yang tujuan utamanya berusaha menggapai kemerdekaan bangsa Indonesia (Nusantara).
Tonggak sejarah penting Nusantara berikutnya ditandai dengan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan tonggak sejarah penting sebelum akhirnya Indonesia diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945.
ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) menggelar sarasehan dengan tema "Bangkitnya Sebuah Kesadaran" dengan pemantik KH. Dr. M. Teguh (filosof dan akademisi), Dr. Muntahibun Nafis (Dosen UIN Satu) dan Ki Wawan Susetya (Budayawan) dengan dipandu moderator Naning Puji Astuti.
Dalam sarasehan juga ditampilkan grup Reneo Musik band. Sekitar 100 an orang audience mengikuti jalannya sarasehan hingga usai.
Laksda (purn) Harry Yuwono, pembina ForSabda dalam sambutannya mengatakan, "Dalam sarasehan ini sesungguhnya kita berusaha menggali dan mengambil hikmah dari nilai-nilai momentum penting dalam Hari Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan berdirinya BUDI UTOMO pada tanggal 20 Mei 1908."
Sementara itu Ki Lamidi juga menandaskan mengenai pentingnya Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara kita.
Pemantik pertama Dr. Muntahibun Nafis mengawali paparannya dengan mengutip puisi WS Rendra,
"Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata."
Mengenai pentingnya sebuah kesadaran diri, Nafis juga merujuk mengenai sebuah ujaran yang sangat terkenal dalam Tasawuf, 'Man arafa nafsahu faqod arrafa Rabbahu' (Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya). Dalam konteks membuka kesadaran itu, Nafis mengatakan bahwa salah satunya dapat ditempuh melalui Thoriqah Nafsabandiyah yang disebut 7 (tujuh) Latifah sebagai pembuka kesadaran dalam diri. Tentu, salah satu metodanya dengan cara melakukan dzikir, sarana untuk mengingat Allah Swt hingga dapat membuka hijab dan menggapai hakikat.
"Hal itu secara umum dianggap mustahil, tetapi tidak bagi para Salik, pelaku Thariqah Nafsabandiyah," Nafis menandaskan.
Setelah itu disambung pemantik kedua, Ki Wawan Susetya yang menyatakan bahwa sesungguhnya kita itu mempunyai suatu "rumah" yang sangat jarang dikunjungi, yaitu hati (kalbu).
"Budayawan Sudjiwo Tedjo kemarin saat acara di kampus UIN Satu Tulungagung juga mengingatkan hal itu. Kita mempunyai 'rumah', tetapi kita jarang mengunjunginya," ujar Wawan.
Dalam paparannya, Wawan juga menyampaikan mengenai tiga kesadaran manusia yaitu kesadaran lahiriyah, lahiriyah- batiniyah, dan batiniyah yang biasanya dilakukan sesuai dengan strata 'usia kesadaran'-nya masing-masing.
Wawan juga mengilustrasikan tiga dimensi manusia yaitu jasmani, ruhani dan nurani melalui kisah dalam pewayangan antara Sukasrana-Sumantri dan Prabu Harjunasasrabahu dalam lakon "Sumantri Ngenger".
Sementara itu pemantik terakhir KH. Dr. M. Teguh menceritakan perjuangan dr. Sutomo mendirikan BUDI UTOMO melalui gagasan dari dr. Wahidin Sudirohusodo. Dan, nama dr. Sutomo kemudian diabadikan Rumah Sakit di Surabaya.
"Tetapi sayangnya sebelum Indonesia merdeka, beliau (dr. Sutomo) tidak bisa menikmati usaha perjuangannya karena sudah tutup usia," ungkapnya.
Lebih jauh M. Teguh menguraikan mengenai teori tentang etik (etika), moral dan akhlak dalam filsafat. Selain itu M. Teguh juga menyinggung tentang benar-salah, baik-buruk dan indah-jelek.
Baik-buruk itu menyangkut etika, sedang benar-salah itu merujuk pada agama, sementara indah-jelek itu berkenaan dengan seni.
"Sayangnya wilayah keindahan atau estetika ini sering dinilai dari sudut pandang agama, sehingga kerapkali tidak nyambung. Bukankah wilayah agama tadi mengenai benar-salah, sedang keindahan itu ranah seni-budaya?!" tandasnya.
Sarasehan semakin gayeng tatkala sesi dialog, antara lain yang menanggapi Sugeng Lesung, Wiji Mujiono, dan Hariyadi, mantan Kepala Purbakala Jatim atau BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) wilayah IX. Setelah doa penutup oleh M. Teguh, lalu dilanjutkan musik lagi bersama Reneo Band pimpinan Martinus.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra