Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Intip Ketelatenan Budi Plandang Melatih Tari ODGJ di Tulungagung

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 30 Mei 2024 | 03:00 WIB
TELATEN: Budi Plandang memberikan materi tari reog kepada penderita ODGJ di balai Desa Ringinpitu.
TELATEN: Budi Plandang memberikan materi tari reog kepada penderita ODGJ di balai Desa Ringinpitu.

 

SELAIN dikenal sebagai dalang kondang di Bumi Lawadan, Budi Plandang  juga aktif berkegiatan di berbagai bidang seni lain.

Teranyar, dia disibukkan dengan program kesenian bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sebagai pelatih tari. Kesempatan ini dia manfaatkan untuk menularkan semangat berkesenian.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 saat Budi meminta puluhan ODGJ mulai berbaris di pendapa balai Desa Ringinpitu, kemarin (29/5/2024).

Selang beberapa saat, alunan musik jawa mulai terdengar. Perlahan, Budi memulai tarian reog kendang dengan diikuti ODGJ yang tampak antusias.

“Ini program Pemdes Ringinpitu untuk memberdayakan ODGJ di desa ini. Program pemberdayaan sudah digelar setahun terakhir. Kalau pelatihan tari mulai digelar sejak tiga bulan lalu,” ujar laki-laki 59 tahun ini.

Didapuk menjadi pelatih tari bagi para ODGJ membuat laki-laki berambut ikal ini bersemangat. Sebab, melalui cara ini dia bisa menularkan seni tradisional kepada khalayak umum, tak terkecuali kaum ODGJ di Desa Ringinpitu.

Menurutnya, kesempatan untuk bisa mengolah rasa melalui harus bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Saya warga Ringinpitu. Lalu, saya juga ada latar belakang di bidang seni tari. Jadi, begitu ada program semacam ini, saya merasa terpanggil,” lanjutnya.

Total ada sekitar 30 ODGJ yang terdata sebagi peserta di program ini. Budi mengungkapkan, para penderita ODGJ mengalami tekanan pada psikis. Selain halnya tindakan medis, pendekatan melalui bidang seni juga perlu diberikan untuk mengurangi tingkat tekanan.

“Tujuannya, agar penderita bisa sedikit refreshing dengan kegiatan ini,” kata dia.

Disinggung soal kendala, Budi mengaku tak mengalami kesulitan berarti dalam proses latihan selama tiga bulan terakhir.

Tapi, harus diakui bahwa ada melatih ODGJ menari punya tantangan tersendiri dibanding melatih orang yang sehat secara psikis.

“Kami sesuaikan dengan pola latihan yang mereka inginkan. Kadang memang ada satu atau dua peserta yang malas berlatih. Tapi, bisa disiasati. Nah, secara umum mereka bersemangat. Itu yang membuat saya terkesan. Karena itu membuktikan bahwa mereka tidak kalah dengan orang yang sehat,” ujar ayah tiga anak ini.

Untuk diketahui, para ODGJ yang mengikuti pelatihan tari dijadwalkan mentas di event peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus mendatang.

Selain unjuk kebolehan di event yang digelar oleh Pemkab Tulungagung itu, mereka juga akan mentas di event tingkat desa. Budi mengaku, dalam beberapa waktu terakhir, kegiatan ini menyita pemerintah kecamatan dan jajaran Polri.

Bukan tidak mungkin program serupa bakal direalisasikan di wilayah lain di Tulungagung.

“Iya. Ada apresiasi dari polres dan pemerintah kecamatan. Katanya, ini bisa jadi percontohan untuk daerah lain,” sebutnya.

Terlepas dari itu, Budi merasa bahwa ikut memberdayakan penderita ODGJ merupakan tanggung jawab semua orang. Mereka yang punya kapasitas bisa memberi bantuan di bidang masing-masing.

“Katanya mereka sulit diajak komunikasi, apalagi menari. Tapi selama ini saya rasa biasa saja. Yang penting pada Agustus nanti mereka akan mentas. Orang-orang di sekitar saya juga pada tanya, ‘kok mau jadi pelatih?’. Kalau menurut saya, mereka itu tetap saudara kita. Mereka juga harus dirangkul,” pungkasnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#budi plandang #odgj #pelatih tari