TULUNGAGUNG - Terik matahari tak menghalangi ribuan warga yang mengikuti acara Grebeg Sura Sedekah Bumi di Pantai Gemah, Mingu (7/7/2024).
Acara itu menjadi penanda tahun baru dalam penanggalan Jawa. Selain sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, grebeg Sura juga sarat makna mendalam lain.
Bunyi alunan musik Jawa langsung terdengar begitu mendekati area Pantai Gemah kemarin. Di jalanan menuju pantai itu, tampak sejumlah remaja putri menampilkan tarian tradisional.
Di sepanjang jalan berjejal warga yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara grebeg Sura sedekah bumi.
Sutrisno, salah seorang warga mengaku antusias dengan acara kemarin. Dia menilai, hal serupa juga dirasakan oleh para warga lain yang turut datang. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Tulungagung masih memegang teguh budaya yang diwariskan oleh pendahulu.
“Saya salut dengan kepedulian masyarakat Desa Keboireng secara khusus dan Tulungagung secara umum. Mereka tetap melestarikan budaya ini turun temurun,” ucapnya.
Laki-laki 48 tahun ini menambahkan, hal ini penting agar generasi penerus dapat mewarisi nilai-nilai luhur yang ada. Menurut dia, event grebeg Sura sedekah bumi yang digelar setiap tahun jadi langkah strategis untuk mempromosikan tradisi dan budaya ke kancah yang lebih luas.
Itu sebabnya Sutrisno rela jauh-jauh datang dari Sumatera Selatan untuk melongok acara di pantai yang berlokasi di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, kemarin.
“Saya dari Palembang. Tapi orang tua kami dari sini. Kami sekeluarga ikut rayakan karena ini memang hanya ada setahun sekali. Tujuannya, agar anak-anak kita tahu tradisi. Dan kami sudah tiga tahun berturut-turut datang ke sini untuk mengikuti grebeg Sura,” akunya.
Mengingat dalamnya makna yang terkandung dalam grebeg Sura, dia berharap agar pemkab, pemdes, dan seluruh pihak yang terkait bisa menggelar acara serupa setiap tahun.
“Harapannya ke depan tradisi kita di Pantai Gemah ini bisa lebih ramai dan lebih seru lagi,” ujar Sutrisno.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Keboireng, Supirin mengungkapkan bahwa tujuannya digelarnya acara tahun ini adalah sebagai bentuk syukur. Yang ditujukan kepada Tuhan atas berkah kesehatan, keselamatan, dan hasil bumi yang melimpah kepada masyarakat.***
“Selain itu, kita juga ingin agar wisata di sini semakin ramai,” tegasnya.
Berbeda dengan sebagian besar daerah lain yang melarung hasil bumi, pelaksanaan grebeg Sura di Pantai Gemah terbilang cukup berbeda.
Hasil bumi justru dibagikan kepada warga yang hadir. Selain sebagai bentuk kepedulian pada sesama, hal itu juga dimaksudkan sebagai ajakan untuk bergotong royong.
“Tidak ada yang dilarung, tapi dibagikan ke warga yang berdatangan. Lalu, ada perbedaan lagi. Kalau tahun lalu kirab hanya dilakukan di bibir pantai. Tahun ini dilaksanakan di jalan raya untuk meramaikan acara. Antusiasme seluruh warga sangat luar biasa,” kata dia.
Tapi, Supirin menegaskan, ada poin penting yang tak boleh luput dari perhatian seluruh masyarakat. Yaitu, keselarasan antara makhluk dan alam. Hal ini bisa dimaknai dengan bekerja sama untuk menjaga lingkungan, utamanya soal kebersihan laut.
Masyarakat harus sadar bahwa aktivitas membuang sampah sembarangan justru tak mencerminkan kesepadanan masyarakat Jawa dengan alam.
“Sampah yang ada di laut itu asalnya dari sungai. Untuk menangani sampah di air sangat susah. Saya berpesan supaya kita semua bisa kerja sama untuk tangani sampah laut,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Disbudpar Kabupaten Tulungagung, Bambang Ermawan mengatakan bahwa masyarakat Bumi Lawadan patut bangga. Sebab, di tengah derasnya era globalisasi, masih ada kelompok masyarakat yang berupaya melestarikan tradisi leluhur.
“Ini membuktikan seluruh elemen masyarakat di Tulungagung bahu-membahu menjaga tradisi budaya ini,” ujarnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra