Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Inspiratif! Kisah Lukito Teguh Jualan Buku di Era Digitalisasi

Aditya Yuda Setya Putra • Jumat, 16 Agustus 2024 | 23:17 WIB
Lukito menyimpan kisah inspiratih sebagai penjual buku.
Lukito menyimpan kisah inspiratih sebagai penjual buku.

TULUNGAGUNG - Meski digitalisasi literasi tak bisa dibendung, Lukito, salah seorang pelapak buku, masih percaya buku fisik masih akan bertahan. Itu sebabnya lapaknya yang berada di Kelurahan Kenayan itu masih berdiri hingga saat ini.

Ratusan buku dari berbagai judul dan tema tertata rapi dalam kios kecil miliknya. Mulai dari buku komik, literasi agama, novel, cerita rakyat, hingga buku pelajaran sekolah dia sediakan.

Sejak pertama kali melapak pada 1997 lalu, Lukito mengaku bahwa buku pelajaran dan novel paling laris di pasaran.

"Karena itu, di sini saya sediakan 80 persen buku pelajaran. Sisanya buku dari berbagai genre lain," akunya.

Dalam beberapa tahun belakangan, modernisasi mendorong masyarakat untuk merubah sumber literasi. Menurut Lukito, dulu masyarakat lebih mengutamakan buku fisik.

Sistem pendidikan kala itu juga mewajibkan siswa memiliki buku pegangan selain buku paket sebagai bahan ajar utama.

"Dulu sehari rata-rata ada 100 orang pembeli di kios. Sekarang paling hanya sekitar 20 orang pembeli sehari," kata laki-laki 53 tahun ini.

Jumlah penurunan pembeli secara drastis dia rasakan sejak pagebluk Covid-19 mulai menyebar di Tulungagung. Tepatnya, pada 2020 lalu.

Adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi sistem pembelajaran melalui tatap muka berdampak serius pada kegiatan usaha buku fisik. Pasalnya, para siswa tak lagi diwajibkan membeli buku pegangan sebagai pendamping buku paket.

"Iya. Sejak Covid-19 terjadi penurunan makin drastis. Sekarang hanya diwajibkan beli buku paket tanpa buku pegangan dari percetakan luar," lanjutnya.

Kondisi ini membuatnya pesimis nantinya buku fisik bakal kembali jadi idola masyarakat. Hal ini membuatnya sadar bahwa eksistensi pelapak buku lambat laum juga akan makin tergerus modernisasi dan digitalisasi.

"Saya rasa kok sulit ya. Tapi, saya akan tetap bertahan dengan toko buku ini. Sebab, ini peninggalan orang tua," tegasnya.

Ayah satu anak ini menambahkan, secara umum, masyarakat kini memang lebih memilih internet sumber literasi digital. Itu sebabnya jumlah pembeli buku fisik makin susut.

Meski begitu, dia menilai ada keunggulan buku fisik yang tidak didapati pada buku elektronik atau semacamnya. Yaitu, jika ditilik dari faktor nonteknis.

"Memang, internet menang dari segala hal. Tapi, ada keunggulan buku fisik yang tidak dimiliki buku elektronik. Yaitu, buku bisa dikoleksi dan ada kebanggaan tersendiri. Karena saya juga koletor buku sejak awal 1997," katanya.

Dia berharap hal ini jadi perhatian pemerintah. Salah satunya dengan menelurkan kebijakan untuk kembali mewajibkan siswa sekolah berliterasi melalui buku fisik.

Selain untuk menjaga denyut usaha kecil, kebijakan itu juga disebutnya bisa membuat pelajar dan generasi muda tak malas membaca.

"Semoga buku fisik seperti ini tetap dipakai. Sehingga tidak melulu belajar dari buku paket atau internet. Sebab, berinteraksi dengan buku akan anak-anak jadi rajin membaca dan banyak literasi," sebutnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#lukito #features #literasi