TULUNGAGUNG - Kejamnya masa penjajahan jepang masih terekam jelas di ingatan Lamidi. Pria berusia 86 tahun ini mengingat betul harus mengolah ketela untuk bertahan hidup pada masa itu.
Tahun 1942 menjadi rentan waktu masuknya prajurit nippon ke tanah Nusantara. Berselang satu tahun, Residen Kediri Enji Kihara mengusulkan pembangunan drainase buatan di Tulungagung yang kini dikenal sebagai terowongan Niyama. Pada masa itu, kesulitan-kesulitan untuk bertahan hidup pun mulai terjadi.
Seorang Pejuang Veteran, Sekretaris LVRI, Lamidi menceritakan masa kelam penjajahan jepang pada masa itu. Bahkan untuk bertahan hidup, dia harus mengolah pangan dari bahan ketela.
Pada masa itu nasi menjadi barang yang sukar ditemui. Adanya nasi justru menjadi lawuk agar hidangan tidak begitu hambar. Bagaimana tidak, pada masa itu tiwul kerap digunakan menjadi pengganti nasi.
“Makan nasi putih itu sulit banget. Kalaupun ada pasti dicampur sama tiwul (olahan ketela) biar tidak cepat habis, malah jadi lawuk makanan,” jelasnya Minggu (18/8/2024).
Sekitar tahun 1943, Lamidi masih berusia 5 tahun. Masa pertumbuhan Lamidi pun dihabiskan dengan berdamai untuk mempertahankan hidup di masa penjajahan Jepang.
Pada masa itu, hampir seluruh tenaga pria dimanfaatkan untuk mengolah sawah. Namun setibanya prajurit nippon, mayoritas tenaga pria dialihkan untuk melakukan pembangunan drainase buatan yakni terowongan air yang menembus gunung untuk mengalirkan air yang menggenang di hilir Sungai Brantas menuju Samudera Hindia.
“Dulu di wilayah Selatan itu ada semacam asrama untuk tempat tinggal para pekerja. Pekerjanya kebanyakan dari luar wilayah, tapi juga tidak sedikit dari masyarakat Tulungagung,” ucapnya.
Pada masa itu, kesulitan-kesulitan pun mulai terjadi. Nasi putih yang biasanya masih muncul di sepiring hidangan pun hilang. Kini tinggal nasi tiwul ditambah garam.
Lamidi mengingat betul masa-masa itu. Menurutnya masa itu merupakan masa sulit bagi masyarakat untuk bertahan hidup. Jangankan untuk menyantap makanan enak dan bergizi, bisa makan saja sudah membuatnya bersyukur.
“Satu hari bisa makan satu kali saja sudah bersyukur. Tak sedikit juga yang meninggal karena kelaparan, tapi alhamdulillah berkah dari tanah masih bisa diolah,” tutupnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra