TULUNGAGUNG - Kepiawaiannya dalam menuangkan emosi melalui media cat, kuas, dan kanvas tak perlu diragukan lagi. Namanya kini dikenal sebagai salah satu maestro di Tulungagung. Tapi, sebelum sampai di titik ini, banyak asam-garam dikecap oleh Sigit Priyananto.
Tak ada permukaan dinding yang sepi di sanggar seni lukis milik Sigit. Banyak lukisan dengan berbagai ukuran mejeng di tiap sisi permukaan dinding bercat putih itu. Selain jadi sarana mengajar bagi anak didiknya, sanggar yang berlokasi di Jalan Dr Sutomo Gang 7, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, itu juga dia jadikan sebagai galeri.
“Tapi, sebagian besar lukisan saya bawa ke rumah. Karena saya lebih nyaman menuntaskan lukisan di rumah saya sendiri,” ucap laki-laki yang berdomisili di Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, ini.
Kecintaannya pada dunia seni sudah ada sejak belia. Dibesarkan di lingkungan yang melek seni membuatnya bersinggungan dengan berbagai kegiatan seni. Bahkan, dia sudah bercita-cita menjadi seorang seniman saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Ayah saya pengrawit, ibu punya usaha batik, lalu delapan bersaudara rata-rata ngerti seni. Mulai dari tari, gamelan, dan berbagai seni lain,” ujar Sigit.
Singkat cerita, Sigit yang beranjak remaja memutuskan untuk mengambil jurusan pendidikan seni rupa di IKIP Malang. Tepatnya, pada 1989.
Di sana dia menjalin relasi dengan sesama perupa, hingga menggelar sejumlah pameran seni lukis secara kolektif.
“Lalu, begitu lulus pada 1992, saya pulang ke Tulungagung. Di sini mulai bentuk komunitas dengan sesama pelukis. Dari situ mulai menggelar beberapa pameran lagi,” sebut laki-laki kelahiran 5 September 1970 ini.
Dia mengaku proses ini dilalui secara tak mudah. Yaitu terkait banyaknya anggapan negatif yang dialamatkan pada Sigit sebagai pelaku seni.
Tak jarang laki-laki 54 ini mendengar ungkapan yang tak nyaman di telinga. Tapi, tekadnya untuk menjadi seorang pekerja seni sudah bulat.
“Banyak yang bilang jadi seniman itu hidupnya berantakan dan tidak akan pernah berhasil. Atau ada juga yang bilang seni itu tidak menghasilkan. Tapi, tidak masalah. Yang penting saya tetap berkarya,” akunya.
Perlahan, berbagai anggapan miring dia tepis dengan karya. Yaitum dengan menggelar pameran tunggal sebanyak empat kali. Tepatnya, pada 2002, 2008, 2018, dan 2019.
Lalu, didapuk jadi salah satu pelukis di berbagai pameran kolektif juga pernah dia jajaki.
“Kalau pameran bersama, hampir di seluruh kota besar di Indonesia pernah saya ikuti. Selain itu, saya juga pernah ikut pameran di sejumlah negara. Di antaranya, di Malaysia, Turki, hingga Jerman,” sebut ayah dua anak ini.
Adanya keinginan untuk berbagi keilmuan di bidang seni lukis membuatnya mantap mengembangkan sanggar seni yang dia rintis sejak 1994 lalu. Kini, tak kurang 190 anak jadi murid di sanggarnya. Dia menilai hal ini sebagai bentuk berbagi ke sesama.
Disinggung soal nominal, laki-laki berkacamata ini mengaku bahwa mengolah rasa melalui seni lukis jadi passion utamanya. Tapi, harus diakui bahwa kegiatan ini juga mendatangkan pundi-pundi rupiah.
Selain dilirik sejumlah kolektor dari berbagai kota, karya Sigit juga dilirik oleh beberapa perusahan swasta yang bergerak di bidang perhotelan.
“Rata-rata harganya Rp 5-10 juta. Tapi, ada juga yang sampai belasan sampai puluhan juta. Tergantung ukurannya. Dulu juga pernah saya gelar pameran dan di situ semua lukisan saya laku terjual,” katanya.
Meski kini namanya sudah jadi salah satu seniman yang patut diperhitungkan di Tulungagung, Sigit merasa ada hal lain yang lebih penting untuk dia kejar. Yaitu, adanya pengalaman spiritual.
Hal ini biasa dia alami saat mulai menggoreskan cat di atas kanvas dan ketika karyanya bisa dinikmati oleh orang lain.
“Ini juga ibadah. Kita membuat karya untuk dinikmati orang. Lalu, orang jadi bahagia. Kan membahagiakan orang adalah ibadah,” jelasnya.
Untuk itu, dia berpesan kepada para seniman muda di Tulungagung agar tetap berorientasi pada karya. Itu jadi modal penting agar nanti seorang seniman bisa menciptakan komunitas seni. Sebab, dari sana juga akan tercipta pasar seni yang lebih luas.
“Idealis itu saat berkarya. Begitu karya seni jadi, itu wilayah market. Yang pasti jangan takut jadi pekerja seni. Selama dilakukan sepenuh hati, pasti ada hasilnya,” tandasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra