TULUNGAGUNG - Insting bisnis dan mengajar menjadi satu dalam diri Bayu Cahyoadi. Bergelut dengan dunia mini 4 WD atau tamiya sejak duduk di bangku kuliah, Bayu kini jadi salah satu penghobi dan pebisnis mini 4 WD kawakan di Tulungagung.
Tapi, kondisi ini menuntutnya jeli dalam berbagi peran sebagai dosen di perguruan tinggi.
Suasana di lingkungan kampus UBHI PGRI Tulungagung tampak lengang, Kamis (5/9/2024).
Bayu yang baru merampungkan kegiatan akademik sebagai tenaga pendidik bersiap pulang ke kediamannya.
"Pertama kali saya suka tamiya saat saya masih kuliah semester lima di Universitas Negeri Malang. Yaitu, pada 2003," ujar dosen Pendidikan Ekonomi UBHI PGRI Tulungagung ini.
Kegiatan ini terus dia lakoni bahkan hingga saat dia didapuk sebagai dosen magang di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Tepatnya, pada 2012 lalu.
Saking cintanya pada dunia mini 4 WD, Bayu enggan melepas hobinya meski punya berbagai kesibukan lain.
Mulai dari menyanyi, fotografi, dan berbagai aktivitas lain.
Singkat cerita, laki-laki yang tinggal di Jalan Pahlawan, Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, ini memutuskan untuk membuka satu tempat khusus untuk mewadahi sesama pegiat tamiya.
Tapi, sebelum itu, dia harus banting tulang demi mengumpulkan modal yang cukup.
"Saya juga sempat menjadi ojek online, walaupun saya juga seorang dosen," akunya.
Setelah dirasa cukup, Bayu mulai membuka 'bengkel' khusus mini 4 WD pada Februari lalu.
Di tempat yang bersebelahan dengan kediamannya itu, para penghobi tamiya bisa beradu balap, servis, tune up, membeli onderdil, setting mesin, reparasi, hingga custom tamiya.
"Kalau pakai trek di tempat saya gratis," ujar laki-laki kelahiran 16 Juni 1981 ini.
Karena berbasis komunitas, para pelanggan tak hanya datang untuk kebutuhan membeli suku cadang.
Mereka juga aktif berinteraksi dan berlomba dengan penghobi lain di trek yang disediakan Bayu.
Dia menilai hal ini jadi poin positif, di mana berbagai penghobi tamiya dari latar belakang yang berbeda-beda bisa saling bertukar informasi dalam satu wadah.
"Ada banyak kelas dalam tamiya. Kalau di tempat saya kelas speed nascar dan speed aoda. Kelas ini butuh banyak sekali peralatan dan onderdil. Semua juga bisa di-custom dalam perlombaan. Dan kelas speed lebih mengatur jenis baterai yang dipakai," bebernya.
Untuk diketahui, satu unit tamiya kelas speed bisa mencapai kecepatan hingga 60 dan bahkan 80 km/jam. Itu tergantung pada jenis motor, baterai, dan berbagai onderdil yang digunakan.
"Bahkan, paling kencang di trek drag bisa mencapai kecepatan sekitar 100 km/jam," imbuhnya.
Disinggung soal nominal, laki-laki 43 tahun ini mengungkapkan, butuh modal tak sedikit untuk membuka bisnis bengkel tamiya.
Sebab, dia harus merogoh kocek sekitar Rp 50 juta untuk memenuhi berbagai kebutuhan bengkel.
"Kira-kira untuk trek perlu sekitar Rp 12 juta, peralatan lain sekitar Rp 10 juta onderdil sekitar Rp 20 juta, dan ditambah biaya operasional," ucapnya.
Tapi, mengingat tingginya jumlah kunjungan dan transaksi di bengkelnya, Bayu mengaku bisa menghasilkan omzet hingga sekitar Rp 24 juta per bulan.
Meski terbilang menjanjikan dari segi bisnis, bagi dia yang terpenting adalah kesempatan untuk menyalurkan hobi.
"Bisa dibilang saya memang membisniskan hobi dan menghobikan bisnis. Tapi, yang penting kita bisa total dalam apa yang kita sukai," tegasnya.
Di sisi lain, ada berbagai kendala yang harus dia hadapi. Mulai saingan harga dengan kompetitor di platform online hingga harus membagi waktu sebagai penghobi-pebisnis tamiya dengan latar belakanganya sebagai dosen.
"Iya. Harus bagi waktu juga ssbagai pengajar di kampus. Bengkel saya buka sekitar pukul 19.00. Kadang ada pengunjung yang bermain di trek sampai pukul 02.00 pun saya biarkan. Padahal sya juga sudah lelah karena mengajar. Tapi, saya biarkan saja, yang penting mereka senang," katanya.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra