Kecintaan Muhammad Taslim terhadap pusaka khususnya keris tak perlu diragukan. Warga Desa Melis, Kecamatan Gandusari, itu sejak 1980 jadi kolektor keris. Ini juga menjadi keuntungan tersendiri baginya. Sebab, ikut melestarikan warisan budaya.
Usia Taslim kini sudah 58 tahun. Tubuhnya masih bugar, termasuk ketika melihat pameran pusaka di Pendapa Manggala Praja Nugraha jelang Hari Jadi Trenggalek beberapa waktu lalu. Matanya jeli mengamati setiap sudut ruangan yang digunakan untuk pameran tersebut.
Di sana ada banyak keris. Bentuknya juga beragam. Semua dipamerkan. Wadahnya juga dibuat khusus. Beberapa sorot lampu ditambahkan agar memudahkan pengunjung mengamati dan membaca keterangan yang tertera.
Nah, di sanalah Jawa Pos Radar Trenggalek menemui Taslim. Dia pun tak sungkan berbagi cerita. Utamanya terkait kecintaanya terhadap keris. Ternyata dia sudah mulai menjadi kolektor sejak 1980 silam. Dia mulai mengumpulkan keris dari berbagai daerah. Karena itulah, dia sudah banyak “makan garam” (banyak pengalaman). Tak ayal, dia cukup dikenal di kalangan kolektor keris ataupun rekan-rekan lainnya.
Kecintaannya terhadap keris tidak muncul begitu saja. Itu lantaran kebiasaan Taslim yang sejak kecil sudah bersinggungan langsung dengan keris dan berbagai benda pusaka lainnya. Orang tuanya bahkan juga seorang yang cukup ahli terkait keris. Koleksinya pun cukup banyak.
"Ibarat orang Jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino (rasa suka muncul karena terbiasa). Setiap hari saya melihat keris milik orang tua saya, lama-lama jadi suka," ungkapnya.
Ketia berusia 14 tahun, Taslim mulai mengumpulkan keris. Dia tak asal dalam melakukannya. Ketelitian tetap diutamakan. Hingga kini, keris koleksi Taslim mencapai 350 buah. Itu diperoleh dari berbagai daerah, tak hanya Trenggalek, ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lainnya. "Saya dapatkan keris-keris ini dari berbagai tempat,” ujarnya.
Dia menceritakan bahwa pada 2004 lalu pernah memiliki hingga 750 keris. Namun, musibah yang terjadi pada 2005 memaksanya untuk menjual sebagian besar dari keris tersebut. "Waktu itu saya terpaksa harus menjual banyak keris karena kebutuhan mendesak. Saat itu, saya benar-benar merasa kehilangan," kenangnya.
Namun, kegigihannya untuk terus melestarikan tradisi ini tidak luntur. Menurut dia, mencari keris yang berkualitas tidaklah sulit, terutama jika tujuan utamanya adalah untuk diperjualbelikan. "Banyak pameran dan kolektor di setiap daerah, jadi kalau mau cari keris yang bagus atau tua relatif mudah. Yang sulit itu mencari keris sesuai keinginan hati kita," paparnya.
Dia mencontohkan pengalamannya ketika mencari keris dengan dhapur atau bentuk bilah fisik Jalak Ngore, Pamor Untu Walang, dan Tangguh Senopaten. Keris tersebut dia cari selama 10 tahun hingga akhirnya secara tidak sengaja menemukannya di rumah seorang teman yang juga kolektor keris di Purwokerto, Jawa Tengah.
"Saya mendapat isyarah-nya itu 10 tahun sebelumnya. Baru saya dapatkan di Purwokerto, saat saya bermalam di rumah teman saya setelah ikut pameran," ungkapnya.
Meski demikian, dia tidak akan melepaskan keris tersebut walau ditawar dengan harga berapa pun. "Keris ini memang langka dari segi pamor, segi besi, dan segi garap. Sulit dicari yang mirip. Makanya tidak akan saya lepas (jual, Red)," imbuhnya.
Selama lebih dari empat dekade menggeluti dunia tosan aji, dia telah mengikuti berbagai pameran di berbagai daerah. Selain untuk menambah koleksinya, dia juga sering mendapatkan keuntungan dari jual beli keris.
Salah satu transaksi yang paling diingat adalah ketika mendapatkan untung sekitar Rp 117 juta. Nominal tersebut berhasil didapatkan hanya dalam waktu satu hari. Kala itu, Taslim membawa keris dapur Dolog era Majapahit ke pameran di Kebumen. Keris tersebut awalnya dibeli seharga Rp 7,5 juta. Akan tetapi, dia berhasil menjualnya kepada seorang teman di Jawa Tengah seharga Rp 125 juta. "Kerisnya itu memang unik dan langka, jadi tidak heran jika harganya tinggi," paparnya.
Meskipun keuntungan dari jual beli keris bisa sangat menggiurkan, Taslim menekankan bahwa hal tersebut hanyalah bonus. Baginya, yang paling penting adalah kebanggaan dalam merawat dan melestarikan peninggalan sejarah Jawa yang adiluhung. Dia merasa terpanggil untuk menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Dia juga bersyukur keluarganya selalu mendukung hobinya. Meski bekerja serabutan, dia memastikan bahwa rezeki dari pekerjaan utamanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara rezeki tambahan dari hobinya digunakan untuk membeli keris. "Keluarga saya mendukung saja, asalkan kebutuhan sehari-hari terpenuhi," katanya.
Dengan kecintaannya yang mendalam terhadap keris, dia bukan hanya sekadar seorang kolektor, melainkan juga seorang penjaga warisan budaya yang berharga. Di tengah arus modernisasi, dia terus berusaha menjaga dan melestarikan nilai-nilai tradisi yang melekat pada pusaka keris, sembari berharap agar generasi muda juga turut menghargai dan mencintai budaya leluhur. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa