TRENGGALEK- Keroncong menjadi salah satu jenis musik tradisional yang masih bertahan sampai sekarang. Sebab, ternyata pencinta musik ini tak hanya dari golongan tua, tapi juga dari generasi muda. Walaupun jumlahnya tak sebanyak penikmat musik jenis lain, tapi mampu membuat keroncong terus lestari.
Seperti halnya Satriyo Bagus Wicaksono. Warga Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek, itu kepincut musik keroncong. Seperti diketahui, ada beragam alat musik yang digunakan untuk memainkan keroncong. Di antaranya, suling, gitar, gitar bas, ukulele, biola, selo, kontrabas, dan lainnya. Selain menyanyi keroncong, dia juga belajar memainkan berbagai alat musik itu.
Kepada Jawa Pos Radar Trenggalek, Satriyo mengaku punya alasan tersendiri sehingga tertarik menyanyi keroncong. Salah satunya ada teknik unik yakni nggandul. “Keroncong memiliki teknik menyanyi yang unik, beda dengan aliran lagu yang lain. Di dalam lagu keroncong, ada yang namanya teknik nggandul,” ungkapnya.
Satriyo menceritakan bahwa mengenal keroncong lantaran mengikuti kesenangan selera musik sang ayah. Hampir setiap hari memutar lagu keroncong. Akhirnya, dia menjadi terbiasa dan menyukainya. Nah, pada 2013-2014, Satriyo yang kala itu masih SMP ikut les biola dan flute. Dia dibimbing oleh Ferry di Tulungagung.
“Kebetulan Pak Ferry juga pemain keroncong. Dari situlah saya belajar dan mendapat banyak ilmu keroncong,” katanya.
Satriyo lantas berani mencoba membuat grup keroncong. Meski masih SMP, dia menularkan ilmunya kepada teman-teman sekelas. Grup itu merupakan siswa SMPN 1 Trenggalek dan kerap tampil dalam acara pentas seni.
“Pada 2015, saya masuk di SMAN 1 Trenggalek dan membuat grup keroncong lagi. Sebagian personelnya dari teman saya SMP, sampai akhirnya dapat membuat ekskul keroncong di sekolah,” kenangnya.
Hal lain yang menarik perhatian Satriyo terkait keroncong yakni peminat atau komunitas keroncong tidak sebanyak jenis musik lain. Namun, hal itu justru membuat anggota komunitas musik keroncong lebih solid. Dia juga berpesan kepada generasi muda untuk mulai mencoba mendengarkan musik keroncong. “Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa musik keroncong membuat orang ngantuk, tapi, sebenarnya keroncong juga bisa dinikmati,” jelas pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) itu.
Satriyo juga berhasil membuktikan bahwa melalui musik keroncong bisa mengukir prestasi. Dia meraih prestasi baik tingkat nasional ataupun internasional. Beberapa di antaranya Runner-up Malaysia International Keroncong Competition di Selangor Malaysia 2024; Finalis 10 Besar Osaka Music Competition di Osaka Jepang 2023; Juara 2 Lomba Konkrus Keroncong Semarang 2023; 10 Pencipta Lagu Terbaik “Jalur Rempah” Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi 2019; dan Juara Harapan 1 Lomba Keroncong BPNB se-DIY, Jatim, Jateng 2022.
Prestasi lain yakni Juara Harapan 2 Festival Keroncong Muda Pilar Indonesia di Cibubur 2019 serta Juara 2 Festival Keroncong Muda Pilar Indonesia di Cibubur pada 2017 dan 2018.(bim/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa