TULUNGAGUNG - Dunia sinden bukan hal baru bagi Dwi Aniffatul Azizah. Cewek asal Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru, ini pun pernah dinobatkan sebagai 5 sinden terbaik di festival karawitan antar SMA se-Tulungagung. Serta juara 1 macapat tingkat Jawa Timur.
Di balik suara merdu yang mengalun dalam setiap pentasnya, Dwi Aniffatul Azizah menyimpan cerita penuh keuletan. Gadis yang akrab disapa Dwi ini telah jatuh cinta pada seni sinden sejak duduk di bangku kelas 3 SMP.
Kepada Koran ini, dia mengaku jika perjalanannya di dunia sinden justru berawal dari jaranan senterewe. Tak dinyana, berkat dedikasinya, dia pernah masuk dalam jajaran lima sinden terbaik di Tulungagung saat masih SMA. Bahkan, juara 1 lomba tembang macapat tingkat provinsi di Universitas Negeri Malang (UM) pernah diraihnya.
“Ternyata seni tradisi bisa menjadi ajang prestasi. Padahal dulu hanya sekadar hobi,” katanya.
Cewek ramah ini tak memungkiri jika ada kalanya jadwal manggung bentrok dengan perkuliahan. Otomatis itu cukup menguras energinya, karena Subuh baru sampai rumah dan pukul 08.00 harus sudah di kampus.
“Itu sudah risiko dan harus tetap menjalaninya secara beriringan,” tambahnya.
Dwi mengaku jika saat ini sudah jarang tampil di acara jaranan. Kebanyakan dia terlibat dalam acara wayangan atau campursari. Bahkan, dia pernah nyinden acara wayang kulit di Lampung.
“Jaranan bukannya tidak sama sekali, melainkan tak sesering dulu,” ungkapnya.
Meskipun sudah sering manggung, namun ada kalanya rasa tidak percaya diri menyergapnya. Bahkan, dia merasa belum mumpuni untuk membawakan lagu atau gerakan tari.
“Sesekali pernah seperti itu, tapi itu sebuah kewajaran. Yang penting tetap berusaha memotivasi diri untuk menampilkan yang terbaik,” tambahnya.
Disinggung tips untuk menjaga suara, dia mengaku tak ada rahasia khusus. Dia hanya memilih untuk beristirahat cukup agar suara dan kesehatannya tetap prima.
“Pernah juga suara habis, tapi bisa kembali setelah istirahat cukup,” ujarnya.
Cewek murah senyum ini pun bertekad untuk terus nyinden. Apalagi, dia merasa dunia sinden merupakan jalan untuk melestarikan kesenian tradisional agar tidak punah tergerus zaman.
“Seorang seniman harus memiliki perilaku yang baik. Apalagi dari sini juga menjadi jalan untuk mencari rezeki,” tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri