TULUNGAGUNG - Mia Camilia, cewek asal Desa/Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung telah menjadikan seni tari sebagai jalan hidupnya.
Meskipun terkadang mendapat stigma miring, dia tetap berusaha melestarikan kesenian tradisional yang dicintainya itu.
Karena, dia menganggap sudah berada di dunia yang tepat sesuai bakat yang dimiliki.
Ketertarikan Mia Camilia pada seni sudah terbentuk sejak kecil.
Semua bermula ketika ia kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan kesenian di sekolah.
Kebiasaan ini semakin menguatkan tekadnya.
Hingga akhirnya, Mia bergabung dengan paguyuban jaranan Turonggo Jati di Dusun Kates, Desa/Kecamatan Rejotangan, yang saat itu dipimpin almarhum Sutrimo.
"Dari situ, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga berlanjut ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta," ungkapnya.
Di kota budaya tersebut, Mia semakin mendalami tarian tradisional klasik, khususnya Gagrag Surakarta.
Namun, dia juga tetap mempelajari tari nontradisi (kontemporer).
Perjalanan menjadi seorang penari tidak selalu mudah.
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah transisi dari seni tari kreasi ke tradisi yang lebih kompleks saat bersekolah di Surakarta.
Baca Juga: Begini Cara Fety Zakiyah Ulfa, Warga Desa Karangreko Kecamatan Kampak Raup Cuan
"Banyak sekali yang saya pelajari, mulai dari tari-tari baru hingga bertemu dengan seniman-seniman tari. Secara materi dan pengalaman, itu benar-benar menjadi tantangan," ungkapnya.
Selain menguasai tari tradisional, Mia juga mengeksplorasi tari kontemporer, meskipun ia lebih sering tampil dalam acara nonkompetisi.
Salah satu pengalaman uniknya adalah harus tampil profesional di atas panggung meskipun tanpa latihan.
"Di Surakarta istilahnya mancal, langsung tampil tanpa persiapan panjang. Itu benar-benar mengasah kemampuan saya," ungkapnya.
Mia tidak memungkiri bahwa menjadi seorang penari kerap menghadapi stigma dari masyarakat.
Kadang ada yang menganggap menari itu bukan pekerjaan layak dan penghasilan tidak pasti.
"Tapi bagi saya, karena berangkat dari bakat dan kecintaan pada seni, setiap gerakan tari yang saya lakukan selalu membawa kebahagiaan," ungkapnya.
Dia pun berpesan kepada generasi muda untuk terus percaya pada potensi diri.
"Tetaplah percaya diri, jangan cepat puas, dan selalu haus akan hal-hal baru. Jika itu dilakukan, pasti akan banyak pembelajaran berharga yang didapatkan," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri