TULUNGAGUNG - Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung terus berusaha untuk menggenjot produksi tembakau varietas lokal, khususnya Gagang Rejeb Sidi.
Apalagi, hingga pengujung 2024 ini, panen tembakau di Tulungagung bisa menembus 2.074 ton.
Suasana Gedung Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) tampak ramai kemarin.
Ternyata sedang ada kegiatan yang digelar Dispertan Tulungagung berupa kegiatan ekspose hasil tembakau Gagang Rejeb Sidi.
Hal ini sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas tembakau para petani setempat.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 150 petani tembakau dari perwakilan lima kecamatan.
Yakni, Pakel, Gondang, Campurdarat, Boyolangu, dan Sumbergempol.
Difasilitasi menggunakan dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT) Tulungagung 2024.
Kepala Dispertan Tulungagung, Suyanto mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi untuk menunjukkan seberapa tinggi hasil produksi tembakau lokal Tulungagung.
Ternyata hasilnya cukup menggembirakan dan harganya cukup stabil di pasaran.
“Kegiatan ini untuk menunjukkan hasil pertanian tembakau di Tulungagung seperti apa selama 2024,” katanya kepada awak media.
Yanto -sapaan akrabnya- menambahkan, kegiatan ekspose hasil demplot tembakau Gagang Rejeb Sidi bisa menjadi awal yang baik untuk peningkatan kesejahteraan petani.
Baca Juga: Nasib Pria Usai Bawa Kabur Mobil Pengusaha Tembakau di Tulungagung
Khususnya untuk kelompok tani potensi tembakau di Tulungagung.
“Kami berharap dengan kajian paket teknologi budi daya tembakau melalui demplot dan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas (produktivitas) tembakau Tulungagung varietas Gagang Rejeb Sidi,” jelasnya.
Pria berkumis ini tak menampik jika tembakau Gagang Rejeb Sidi merupakan varietas lokal yang cukup diminati pasar.
Meskipun tidak dilirik pabrikan rokok besar, tetapi di kalangan pabrik rokok lokal Tulungagung, tembakau jenis ini selalu jadi primadona. Bahkan, para petani cukup kewalahan untuk memenuhi permintaan para pengusaha rokok.
“Hari ini (kemarin) saja per kilogram untuk kualitas bagus dihargai Rp 130 ribu. Sedangkan yang diberi gula maksimal Rp 70 ribu. Tentunya ini masih cukup potensial,” tuturnya.
Mantan camat Ngantru ini pun menginginkan kelompok tani tembakau di Tulungagung lebih giat lagi dalam menanam tembakau, dan tidak patah semangat agar hasil panen terus meningkat.
Meskipun sebenarnya pihak dispertan tidak pernah menarget, tetapi diharapkan pada tahun depan bisa melebihi capaian tahun ini.
“Melalui kegiatan ini, para petani dapat mengadopsi informasi, teknologi, serta ketrampilan yang diberikan. Sedangkan untuk output-nya dapat mencetak petani andal dan kelompok tani tembakau yang mandiri,” tandasnya.
Sekadar diketahui, Tulungagung sebenarnya memiliki enam tembakau varietas lokal.
Gagang Rejeb Sidi merupakan yang sudah dilepas ke masyarakat sejak 2017.
Yang lain ada Gagang Rejeb Arang, Gagang Rejeb Kereb, Gagang Jahe, Gagang Ijo, dan Jembrak.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri