TRENGGALEK- Industri pembuatan genteng skala rumahan cukup menjamur di Bumi Menak Sopal. Salah satunya di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Banyak warga di sana menggantungkan hidup dengan membuat genteng. Uniknya, mayoritas masih mempertahankan cara dan alat tradisional yang sudah dipakai turun temurun.
Tim Jawa Pos Radar Trenggalek sambang ke salah seorang perajin genteng di Desa Kamulan, beberapa waktu lalu. Ternyata desa tersebut menjadi pusat kerajinan genteng. Mayoritas warga di sana memproduksi genteng tanah liat secara tradisional. Meski skala rumahan, namun mampu memproduksi nyaris setara pabrikan besar.
Salah seorang perajin genteng ini bernama Suratin. Saat bertemu dengannya, wanita itu terlihat sibuk di halaman rumah. Di sana dijadikan tempat produksi. Tanha liat sebagai bahan utama membuat genteng menumpuk di sisi rumah Suratin. Begitu juga genteng yang baru dicetak, serta yang siap dibakar. Tertata rapi di berbagai sisi rumah itu. Dari membuat genteng itulah, Suratin dan warga lain di sana menggantungkan hidup.
"Awalnya ya tidak tahu apa-apa tentang genteng. Sebab, belajar itu dari Mbah (kakek, Red), pelan-pelan, sampai akhirnya mengerti semua jenis genteng," ungkap Suratin.
Usahanya bermula 25 tahun lalu, disela-sela kesibukan bertani. Kala itu, industri bahan bangunan di Desa Kamulan masih langka. Potensi ini dirasa Suratin sebagai peluang. Dia belajar tanpa menyerah, meski jatuh bangun jadi bagian perjalanan panjangnya.
"Kami dulu cuma punya sedikit alat. Semua serba manual. Tapi tekad itu ya dari sini," katanya, sambil menunjukkan kulit tangannya yang keriput, bekas adonan tanah dan panas dari pembakaran genteng selama bertahun-tahun.
Dalam usahanya, lanjut Suratin, genteng bukan hanya produk, tetapi warisan. Sebab, telah dikerjakan secara turun temurun oleh leluhurnya. Namun, Suratin tidak hanya bertahan pada tradisi. Dia mengembangkan bisnisnya hingga dikenal banyak orang.
Kisah ini bukan hanya soal tanah liat yang berubah menjadi genteng. Ini juga tentang bagaimana tanah itu mengubah kehidupan. "Hasil dari genteng buat beli sawah, beli rumah," katanya lirih.
Keberhasilan Suratin bukan semata-mata karena bahan baku yang melimpah, tetapi kerja kerasnya untuk menjadikan gentengnya berbeda. Orang-orang datang bukan hanya untuk membeli genteng, tetapi juga menyaksikan cerita yang melekat pada setiap biji genteng.
Kini, usaha genteng Suratin telah menjadi legenda di Kamulan. Sebuah simbol ketekunan yang tidak goyah meski waktu terus berlalu. Genteng Suratin bukan sekadar pelindung dari panas dan hujan. Dia merupakan bukti bahwa dengan tekad, sesuatu yang sederhana bisa bertahan dalam waktu yang lama, bahkan menjadi bagian dari sejarah sebuah desa.
"Saya cuma ingin semua tahu, kalau usaha itu butuh waktu, butuh sabar," katanya, menatap usahanya yang terus berkembang. (Rio Pramana Adi Saputra/jaz/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa