Trenggalek- Menjadi guru adalah panggilan hati bagi Inggin Ardina Wahono Putri. Karena itulah, dia selalu tekun mengajar anak didiknya. Tapi ternyata, dia juga memiliki bidang lain lain yang tak kalah menarik, yakni kecantikan.
Kepada Jawa Pos Radar Trenggalek, Inggin menceritakan perjalanannya sebagai make-up artist (MUA). Itu dimulai tanpa rencana. Berawal hobi merias wajah sendiri, dia mulai menerima permintaan teman-teman dekat untuk dirias. Pada 2017, minatnya terhadap dunia rias semakin kuat. Meski saat itu masih fokus menyelesaikan kuliah, dia sudah beniat lebih serius menekuni bidang ini.
Setelah lulus kuliah pada 2018, Inggin memulai kariernya sebagai guru honorer di SMPN 1 Trenggalek. Tak disangka, di sekolah itu dia bertemu seorang rekan sesame guru yang memiliki hobi serupa, yaitu henna art. Keduanya langsung klop. Mereka merintis dan mengembangkan bisnis bersama.
“Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, tapi Alhamdulillah banyak job yang datang silih berganti,” ungkap Inggin.
Keseriusan Inggin juga terlihat ketika mengikuti berbagai kelas privat tata rias di Malang dan Trenggalek. Pada 2019, dia mengambil program basic to pro di Malang untuk meningkatkan keahliannya. Bahkan, dia ditunjuk menjadi trainer tata rias di SMAN 1 Karangan. Sebuah pencapaian yang menggabungkan kedua dunia yang dia cintai, yakni pendidikan dan kecantikan.
Inggin tidak berhenti di situ. Hasil jerih payahnya sebagai trainer digunakan untuk mendalami ilmu rias lebih jauh. Pada 2022, ia kembali mengikuti kelas privat di Malang untuk memperbarui teknik dan tren riasan.
“Menjadi guru sudah panggilan hati, tapi dunia rias juga sangat menarik. Bukan semata-mata karena uang, tapi karena passion saya ada di sana,” ujar Inggin.
Kini, Inggin sukses menjalani dua profesi sekaligus. Yakni guru yang menginspirasi siswa di kelas, dan sebagai MUA yang membantu para pengantin tampil memukau pada hari istimewa mereka.
Kisah Inggin menjadi bukti, bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa menjalani dua impian sekaligus. Dia tidak hanya menjadi panutan bagi siswanya, tetapi juga menginspirasi banyak perempuan untuk berani mengejar mimpi, apa pun latar belakangnya. (bim/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa