Tulungagung - Mochamad Makruf Arifin terus melawan stigma jika tarian identik dengan wanita.
Pria asal Desa/Kecamatan Campurdarat ini pun membuktikan bahwa seni tari adalah milik semua orang tanpa memandang gender.
Dunia tari bukan hal baru bagi Mochamad Makruf Arifin.
Usut punya usut, gerakan tari sudah dikenalnya sejak masih kecil.
Bahkan, dalam kesehariannya, pria 30 tahun ini tercatat sebagai guru SD dan pelatih tari di sebuah sanggar.
"Saya mulai menari secara otodidak waktu SD. Belajar hanya dengan melihat video di YouTube, lalu menirukan gerakannya," ungkapnya.
Semangatnya terus berkembang hingga dia bergabung dengan Sanggar Tari Prana Kesuma Aji saat kuliah di IAIN Tulungagung (sekarang UIN SATU) pada 2014 silam.
Dia kemudian melanjutkan studinya pada 2021 di Universitas Terbuka Malang. Bukannya mengambil jurusan kesenian, dia justru mendaftar di PGSD.
Makruf, sapaan akrabnya, mengaku menjadi penari bukan sekadar hobi, melainkan juga misi untuk melestarikan budaya tradisional agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tak mustahil, hingga detik ini dia menguasai beragam tarian, seperti Remo Bolet, Reyog Kendang, dan Dhodog Sekar Prawira.
Semuanya adalah representasi dari kekayaan budaya daerahnya.
"Saya ingin budaya ini tetap ada, tidak hilang," tuturnya.
Namun, jalannya sebagai penari laki-laki tidak selalu mulus.
Stigma negatif kerap kali menghampirinya.
"Orang-orang sering bilang kalau menari itu hanya untuk perempuan. Padahal, tarian adalah seni universal yang tidak mengenal gender," jelasnya lantas tertawa.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika tampil di depan maestro tari Didik Nini Thowok dalam sebuah acara sarasehan dan workshop tari di Narita Hotel.
Tentunya pengalaman itu tidak mungkin dilupakannya.
"Bisa menari di depan beliau adalah pengalaman yang luar biasa. Saya merasa sangat terhormat," ujarnya.
Untuk menjaga kebugaran tubuhnya, dia menekankan pentingnya latihan rutin.
Selain itu, minum air putih yang cukup dan menghindari minuman dingin saat latihan juga sangat membantu.
"Konsistensi latihan adalah kunci," tegasnya.
Makruf pun berharap stigma tentang penari laki-laki bisa segera hilang.
Menurut dia, seni tari adalah ruang untuk berekspresi tanpa batas.
"Bagi anak muda yang ingin menari, jangan takut. Setiap langkah yang kamu ambil adalah bagian dari perjalanan menemukan diri. Tarian adalah kebebasan untuk berekspresi, dan itu adalah hak semua orang," tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri