Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jatuh Bangun Supraptieni Menjaga Eksistensi Kasur Kapuk di Tulungagung, Jaga Warisan Ibunda

Redaksi Radar Tulungagung • Sabtu, 11 Januari 2025 | 18:28 WIB
Supraptieni sedang menjahit kain pembungkus kasur kapuk di kediamannya di Desa Sodo, Kecamatan Pakel.
Supraptieni sedang menjahit kain pembungkus kasur kapuk di kediamannya di Desa Sodo, Kecamatan Pakel.

Tulungagung - Kasur kapuk kurang begitu diminati masyarakat.

Namun, bagi Supraptieni, itu bukan menjadi masalah.

Bahkan, warga Desa Sodo, Kecamatan Pakel, Tulungagung, ini tetap konsisten meneruskan usaha yang dirintis ibunya.

Dalam kesehariannya, Supraptieni selalu bergelut dengan kain, jarum, dan kapuk.

Dia memang meneruskan usaha pembuatan kasur kapuk milik ibunya, Sarmi, yang dirintis sejak 1970-an.

Buah tangan Supraptieni memberikan kenyamanan bagi penikmatnya.

Keterampilan tersebut sudah ia lakukan sejak ibunya meninggal empat tahun lalu.

Baginya, sosok ibu adalah inspirasi yang mampu memperkenalkan kegigihan dalam bekerja yang dapat dikenal masyarakat hingga saat ini.

Awalnya, dia enggan untuk meneruskannya.

Namun, melihat kerja keras ibunya serta pelanggan setia yang banyak, mau tidak mau ia meneruskan usaha tersebut.

Sebagai pewaris, dia tentu merasa kesulitan dalam mempertahankan usaha yang sudah berdiri selama setengah abad tersebut.

“Tentu ada tantangan tersendiri untuk meneruskan usaha ini,” jelasnya.

Wanita ramah ini menambahkan, meningkatnya harga kapuk dapat memengaruhi stok bahan dan harga kasur.

Jika dulu harga kasur sekitar Rp 40 ribu, saat ini sudah naik menjadi Rp 1,2 juta.

Naiknya disebabkan harga kapuk dulu Rp 17 ribu melonjak jadi Rp 35 ribu per kilo.

“Saya lebih mengurangi tenaga kerja supaya pengeluaran tidak banyak," tambahnya.

Wanita 44 tahun ini pun tak menampik hadirnya spring bed menjadi salah satu pemicu berkurangnya pelanggan kasur kapuk.

Dalam sebulan, hanya sekitar 15 pelanggan yang memesan kasur kapuk tersebut.

Namun, dia tidak mempermasalahkan itu.

Sebab menjaga kualitas kasur menjadi kunci Supraptieni dalam mempertahankan usahanya.

Kain yang digunakan pun harus berbahan katun sehingga kasur lembut dan terasa sejuk.

"Saya tetap menjaga kualitas kasur sejak dulu. Dari kain yang digunakan harus berbahan lembut, serta kapuk yang akan digunakan sebaiknya dijemur supaya kering dan mekar, agar tidak keras kasurnya," tambahnya.

Perjuangan mempertahankan usaha jadul namun tetap eksis sampai saat ini membutuhkan tekad yang kuat.

Karena itu, dia menjaga kualitas kasur kapuk supaya tidak ketinggalan zaman.

"Sebagai generasi kedua, saya tetap mempertahankan kasur kapuk tetap eksis dan menjadi kasur berkualitas dibandingkan kasur yang lain," pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#spring bed #kecamatan pakel #Kasur kapuk