Pernikahan Lebih Sakral, Hati-Hati saat Improvisasi
Dimas Azhari, pemuda asal Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, membuktikan bahwa hobi bisa jadi profesi dan mampu menghasilkan cuan. Tak terkecuali master of ceremony (MC). Tentu saja, hal tersebut harus didukung kerja keras. Selain itu, wajib terus mengembangkan diri agar bisa tampil maksimal.
Sejak kecil, Dimas telah tertarik dunia public speaking. Namun, dia baru mulai menemukan wadah yang tepat untuk mengasah kemampuannya saat bersekolah di SMKN 1 Rejotangan. Di sana, dia aktif dalam berbagai ekstrakurikuler, seperti jurnalistik. Selain itu, kerap mengikuti berbagai lomba yang digelar di sekolah maupun di luar.
Dia menceritakan, salah satu pengalaman berkesan ketika dirinya berkesempatan mewawancara penyanyi Deny Caknan. Itu membuatnya semakin termotivasi untuk mendalami dunia public speaking, khususnya menjadi MC.
Nah, setelah menyelesaikan pendidikan di SMK, Dimas memilih melanjutkan studi di UIN SATU Tulungagung. Di kampus terbesar se-Tulungagung itu, dia memilih jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Ini tak lain untuk mendukung minat dan passion-nya di dunia komunikasi.
Dari sini, Dimas mulai dikenal sebagai MC di acara kampus, penyiar radio di Genius FM, bahkan menjadi host serta co-host di program tv kampus. Keahlian yang terus diasah membawanya ke dunia profesional. Dimas kini dikenal sebagai MC all event yang dipercaya untuk menangani acara besar di Tulungagung, bahkan luar kota.
"Dulu mulai dari acara kecil kampus, sekarang sudah banyak klien yang mempercayakan acara mereka kepada saya. Mulai ulang tahun, gathering, hingga wedding," ujarnya.
Dimas pun berbagi pandangannya mengenai perbedaan antara MC di acara gathering dan pernikahan. Wedding lebih sakral, jadi harus hati-hati dalam memilih kata, termasuk saat improvisasi. “Sedangkan di gathering, lebih fleksibel dan bisa lebih santai," jelasnya.
Sebagai MC, Dimas selalu mengutamakan persiapan matang. Dia tidak hanya mempersiapkan teks, tetapi juga memahami rundown acara, dan menyesuaikan diri dengan audiens. "Di setiap acara, saya selalu berusaha tampil all-out, mulai dari penampilan hingga improvisasi bareng audiens," jelasnya.
Hal inilah yang membuat banyak klien kembali memanggilnya untuk menjadi MC acara mereka. Tak jarang, Dimas juga membantu mereka dengan memberikan rekomendasi vendor atau konsep acara yang lebih menarik.
Meskipun masih kuliah semester akhir, Dimas tidak menjadikan hal itu sebagai hambatan. Baginya, menjadi MC adalah peluang untuk menambah penghasilan dan pengalaman. "Walaupun banyak yang menyepelekan, profesi MC ini bisa jadi sumber penghasilan tambahan yang juga membantu kuliah saya," kata pria yang bercita-cita menjadi public figure dan tampil di layar kaca itu.
Dimas pun berbagi pesan untuk anak muda yang ingin mengikuti jejaknya. “Jangan takut bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Dulu saya hanya bisa berkhayal, tapi sekarang saya mulai melihat impian itu terwujud,” tandasnya.
Dengan tekad dan kerja keras, Dimas Azhari terus mengejar mimpinya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. ***
Editor : Firman Aji Saputra