Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjalanan Nanik Sriwiyani Kembangkan Usaha Melati Ronce di Tulungagung Ternyata Bermula dari Sini

Redaksi Radar Tulungagung • Sabtu, 18 Januari 2025 | 04:50 WIB
Nanik Sriwiyani saat sedang meronce melati untuk keperluan upacara adat.
Nanik Sriwiyani saat sedang meronce melati untuk keperluan upacara adat.

Tulungagung - Aji-aji kepepet bisa menumbuhkan inspirasi usaha.

Hal ini pun berlaku pada Nanik Sriwiyani.

Melihat dagangan melati orang tuanya tidak laku, wanita asal Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, ini pun mengubahnya jadi perlengkapan pengantin yang banyak dicari.

Sore yang cerah mengiringi langkah Koran ini menuju sebuah rumah di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung.

Saat itu, si empunya rumah yakni Nanik Sriwiyani sedang fokus, dan tangannya lihai menata bunga yang akan dijahit menjadi hiasan pengantin model tiba dhadha.

Sembari menggarap ronce melati, Nanik -sapaan akrabnya- bercerita jika ide membuat ronce melati berawal dari usaha orang tua Nanik dalam menjual bunga melati.

Namun, semakin banyaknya bunga melati dan penjualan tidak laku akhirnya menjadi overload.

Hingga akhirnya, dia berinisiatif untuk belajar ronce melati sendiri.

“Banyak melati dagangan orang tua tidak laku. Makanya saya berinisiatif mengubahnya jadi sebuah karya yang bernilai ekonomis,” jelasnya.

Dia mengaku rangkaian bunga tersebut bisa menyesuaikan kebutuhan, seperti tiba dhadha, sanggul, atau hiasan tubuh lainnya.

"Roncean bunga melati bisa sesuai request pelanggan, tergantung kreativitas pada masing-masing peronce. Misal seperti pengantin Solo putri, modelnya bisa berupa tiba dhadha, sanggul, dan lain-lain," ungkapnya.

Wanita 44 tahun ini mengatakan, bukan hal yang mudah saat menjalankan usaha ronce bunga melati.

Sebab, mulai dari segi perawatan cukup sulit karena produknya harus dijaga supaya tetap fresh.

Karena itu, dia menyimpan bunga melati dan hasil ronce di kulkas sehingga bunga yang sudah dibuat tidak mekar atau layu.

"Karena bunga melati adalah proses alami bisa mekar saat sore, saya harus segera menyimpan di kulkas dan langsung dironce, sehingga bunga melati tidak cepat mekar," jelasnya.

Nanik mengungkapkan, omzet yang didapatkan tidak menentu.

Hal ini berkaitan dengan harga satu set ronce melati yang dibanderol sesuai dengan harga bunga melati dari petani.

Jika harga per kilo naik, maka harga ronce satu set ikut naik.

"Omzet saya tidak menentu, karena berkaitan dengan harga melati dari petani. Kalau harga melati naik, harga satu set ronce yang saya jual juga naik," pungkasnya. (*/c1/rka)

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pengantin #ronce melati #omzet #kelurahan kepatihan #Solo putri