Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Inilah Ki Marjuki Mardi Sabdo, Dalang Ruwat Langganan Pemkab Tulungagung

Sandy Sri Yuwana • Kamis, 23 Januari 2025 | 17:24 WIB
Ki Marjuki Mardi Sabdo saat menunjukkan koleksi wayang miliknya.
Ki Marjuki Mardi Sabdo saat menunjukkan koleksi wayang miliknya.

Tulungagung - Beragam profesi pernah dilakoni Ki Marjuki Mardi Sabdo.

Bahkan siapa mengira jika dalang legendaris asal Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, ini pernah menjadi wartawan.

Namun, sekarang dia lebih fokus menjadi dalang ruwat.

Usia tak menjadi rintangan bagi Ki Marjuki Mardi Sabdo untuk melakukan dakwah moral.

Untuk itu, dalam usianya yang kini menginjak 82 tahun, warga Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, ini tetap menjalani profesinya sebagai dalang ruwat.

"Sungguh, Nak, saya mendalang ruwat ini sebagai sikap saya untuk berdakwah moral," kata Ki Mardi Sabdo, panggilan akrabnya.

Ketika koran ini mengunjungi rumahnya, dia sedang duduk bersila di depan kelir wayangnya sambil mengamati tokoh wayang Arjuna dan gunungan yang sudah dia miliki puluhan tahun.

Kegiatan semacam itu rutin dia lakukan hampir setiap hari.

"Ya beginilah kegiatan saya sehari-hari," katanya, sambil mengajak duduk di kursi ruang tamunya.

Di rumah itu, tampak seperangkat kecil gamelan serta kotak dan kelir wayang kulit koleksi Mbah Mardi.

Juga terlihat beberapa setel kursi jati antik yang masih utuh dan terkesan sangat terawat dengan baik.

"Ayo, silakan lenggah (duduk) ngobrol sambil ngopi sini," ajaknya ramah.

Dalam obrolannya, dia selalu menegaskan bahwa seniman termasuk para dalang harus memiliki sikap mandiri dan moral yang baik.

Seniman harus memiliki wadah, organisasi yang sehat, dan terus berkarya.

"Ibaratnya harus memiliki rumah yang kokoh. Dan pemerintah harus hadir. Ini demi kelangsungan dan kelestarian seni tradisi kita," ucapnya.

Perjuangan Ki Mardi terhadap dunia pakeliran wayang tidak perlu diragukan lagi.

Sejak muda, dia sudah mendalang.

Sekarang juga tetap mendalang, tetapi lebih sering sebagai dalang ruwat.

Bedanya? Menurut Mbah Mardi, mendalang biasa itu menggelar cerita tata kehidupan bermasyarakat, bernegara, sedangkan ngruwat memang ceritanya lebih sederhana.

"Cerita tentang Bathara Kala. Tapi pesannya lebih pada spiritual, keselamatan dalam hidup, dan ajakan hidup lebih bermoral," tandasnya.

Berapa harga pementasan ruwatan Ki Mardi?

"Bagi saya, ngruwat itu tidak boleh menentukan harga atau nominal. Ngruwat adalah laku," tambahnya.

Di wilayah Kecamatan Pagerwojo, nama Ki Mardi Sabdo sangat tersohor bagi semua kalangan.

Apalagi, Mbah Mardi dulu adalah seorang kepala desa.

Dia menjabat sebagai Kepala Desa Samar sejak 1970 hingga 1997.

Mbah Mardi pun menceritakan bahwa dulu dia juga seorang wartawan dan memiliki koran mingguan bernama Nusa.

Dengan begitu, lengkap sudah sosoknya sebagai tokoh masyarakat.

"Warga di sini tahu semua kepada Mbah Mardi. Kami menganggap beliau sebagai pinisepuh," kata Wasis, warga Pagerwojo.

Bukan hanya di wilayah kecamatan tempat dia tinggal, bagi seniman se-Tulungagung pun, namanya tidak asing lagi.

Karena, Ki Mardi adalah seorang dalang ruwat langganan Pemkab Tulungagung.

Mardi Sabdo terlahir dengan nama Marjuki pada 1943. Setelah lulus sekolah SMEA (sekarang SMK) di Kauman, dia merantau ke Semarang.

Di sana, dia bergabung dalam grup karawitan Condong Raos, pimpinan dalang legendaris Ki Narto Sabdo.

"Nama Mardi Sabdo ini nama belakang pemberian dari Ki Narto Sabdo," kata Ki Mardi.

Selama di Semarang, dia lebih fokus untuk mempelajari seni pedalangan.

Setelah merasa cukup dalam belajar mendalang, pada awal 1960-an, Marjuki lantas pulang ke Tulungagung.

Tekadnya jelas ingin menjadi seorang dalang.

Gayung bersambut, di desanya, dia terpilih sebagai kepala desa. Juga seorang dalang.

Ada alasan khusus mengapa hingga sekarang dia tetap menekuni profesi sebagai dalang ruwat.

"Ngruwat bagi saya bukan sekadar berkesenian. Melainkan lebih pada pengabdian saya untuk mengajak pada kebaikan dan kesadaran mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tentunya melalui pakeliran ruwatan," pungkasnya. (*/c1/rka)

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kepala desa #wartawan #karawitan #dalang #ruwat