Tulungagung - Keuletan dan ketelitiannya jadi modal berharga untuk tetap eksis di dunia kerajinan ukir kayu.
Meski kini punya banyak pelanggan dari berbagai latar belakang, kiprah Agus Hartoyo di usaha jasa ini tidak selalu mulus.
Bahkan sering dia harus mengesampingkan faktor kesehatan demi memenuhi pesanan pelanggan.
“Dulu saya kerja di pabrik di Surabaya pada 2000. Lalu buka (usaha ukir kayu, Red) di Tulungagung pada 2009 karena pabrik tutup,” ucap Agus, membuka perbincangan dengan pewarta Koran ini kemarin (19/1).
Untuk diketahui, Agus tidak menyediakan produk kerajinan kayu.
Usaha yang dia buka merupakan jasa ukir kayu.
Artinya, pelanggan membawa kayu yang akan diukir ke bengkel milik Agus untuk selanjutnya “dipermak” sesuai dengan pesanan.
“Customer rata-rata mebel,” sambungnya.
Ada berbagai pesanan yang dia layani. Mulai dari ukir patung, relief, diorama, hingga kaligrafi.
Dari sekian jenis ukiran, Agus mengungkapkan bahwa proses pembuatan relief jauh lebih sulit ketimbang jenis ukiran lain.
“Kalau teliti, semua juga butuh ketelitian. Tapi, relief ini lebih sulit. Karena dia gabungan antara perspektif, detail, dan imajinasi,” ujar laki-laki 46 tahun ini.
Usaha yang dia lakoni saat ini butuh kesabaran dan dedikasi tinggi.
Pasalnya, ada waktu-waktu tertentu jasa ukir kayu ramai atau sepi pelanggan.
Nah, Agus mengaku bahwa bulan Ramadan atau hari-hari jelang Lebaran jadi masa “panen” baginya.
“Paling ramai jelang hari raya. Kadang ada (pesanan dari, Red) lima tempat bersamaan,” akunya.
Bahkan, hampir di setiap masa jelang Hari Raya Idul Fitri, Agus terpaksa harus memangkas waktu tidur demi menyelesaikan pesanan.
Meski hal ini tak baik bagi kesehatan, dia mengaku sudah terbiasa dengan pekerjaan yang mengharuskannya berjaga semalaman.
“Kalau furnitur datang, nggak tidur. Bahkan, dulu ada tetangga protes karena berisik. Tapi sekarang sudah tidak berisik, karena saya tidak pakai radio,” katanya, lantas terkekeh.
Disinggung soal nominal, laki-laki yang tinggal di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, ini mengungkapkan bahwa jasa ukir kayu untuk satu firnitur rata-rata dihargai sekitar Rp 1,2 juta.
Jika dalam kondisi ramai, Agus bisa mengantongi hingga Rp 8 juta sebulan. “Tapi ya nggak tidur. Kalau bisa milih, ya kerja yang bisa tidur. Kepenginnya ngoten,” sebutnya.
Dia berharap tingginya animo masyarakat atas industri kerajinan di Tulungagung jadi perhatian pemerintah daerah.
Salah satunya dengan membuka kesempatan bagi pelaku usaha atau perajin untuk menembus pasar global melalui aktivitas ekspor.
“Saya ingin di Tulungagung seperti pengusaha kendang di Blitar yang bisa ekspor produknya,” tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri