Tulungagung - Wayang potehi tidak dikenal banyak masyarakat.
Namun, Kuwato, satu-satunya perajin wayang potehi asal Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, ini masih menjaga tradisi Tionghoa tersebut.
Berawal sebagai pemain wayang potehi sejak 1986, Kuwato mulai tertarik dengan dunia pewayangan tersebut.
Menurut dia, dalam lakon pewayangan potehi terdapat dua kategori pemain, yakni dalang bertugas memainkan wayang dan berbicara, serta asisten dalang bertugas memainkan wayang namun tidak berbicara.
"Sering dibilang saya dalang, namun sejatinya saya pemain wayang. Memang mirip, namun tugasnya berbeda," ujarnya.
Pria 58 tahun tersebut mengatakan bahwa mulai berkecimpung sebagai perajin wayang potehi sejak 2000 silam.
Selama 24 tahun menjadi pemain wayang, Kuwato mencoba mencari tahu bagaimana pembuatan wayang potehi yang kerap kali dia mainkan tersebut.
Dari keterampilan tangan yang luwes serta puluhan tahun menjadi pemain wayang, secara otodidak dia mampu membuat berbagai bentuk karater pada wayang potehi.
Diketahui, pembuatan wayang potehi perlu ketelatenan serta keterampilan seni lukis.
Pasalnya dalam setiap lakon wayang memiliki karakter yang berbeda-beda.
Kuwato mengaku, pengerjaan setiap karakter membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari.
Selain membuat karakter, pernak-pernik yang dibutuhkan untuk satu karakter juga memiliki perbedaan, mulai dari kostum hingga rambut.
"Tidak semua karakter wayang bisa digunakan semua lakon, seperti karakter raja hanya lakon tertentu, sedangkan wayang prajurit bisa digunakan berbagai lakon wayang. Tinggal diganti kostum sesuai lakon yang akan dimainkan," jelasnya.
Harga wayang potehi setiap karakter dibanderol Rp 500-700 ribu.
Jika membeli satu paket wayang potehi yang mencakup 125 hingga 150 karakter bisa mencapai Rp 50-70 juta.
Kendati demikian, penjualan wayang potehi saat ini kurang begitu menggembirakan.
Meskipun menjelang Imlek, keuntungan tetap sama, tidak ada peningkatan.
Menurut dia, pelanggan yang membeli wayang potehi mayoritas adalah kolektor.
"Pelanggan tidak seramai dulu, dalam sebulan saja kadang tidak ada pesanan sama sekali," terang Kuwato.
Meskipun pelanggan wayang potehi terus menghilang, Kuwato tetap teguh menjalankan usahanya.
Kecintaan pada wayang potehi sejak muda hingga usia senja membuatnya enggan menyerah.
Tradisi yang sudah menjadi kebudayaan Indonesia tersebut membuat Kuwato terus menjaga budaya wayang potehi di Kota Marmer, tempat kelahirannya.
"Nrima ing pandum adalah kunci menjalani usaha. Setiap usaha memang sudah biasa mengalami pasang surut, jadi disyukuri saja," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri