Tulungagung - Perayaan Imlek terlihat di salah satu rumah keluarga Tionghoa di Tulungagung.
Yakni di kediaman Tjio Jingjing.
Menurut dia, setelah melakukan sembahyang Shien Tjia, seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam.
Makan malam akan dilakukan saat seluruh keluarga besar datang sehingga perayaan tahun baru dapat dilalui bersama-sama.
“Kami menutup akhir Tahun Naga dengan makan bersama serta menyambut Tahun Ular Kayu,” jelasnya.
Wanita ramah tersebut mengatakan bahwa tidak hanya para keluarga yang melakukan perayaan makan bersama, tapi juga “mengundang” seluruh leluhur yang telah meninggal dengan menyajikan persembahan di mimbar atau ruang keluarga.
“Pesembahan yang disuguhkan biasanya berupa makanan kesukaan para leluhur kami,” ungkapnya.
Jingjing mengaku, perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan musim hujan.
Dalam budaya Tionghoa, hujan saat Imlek adalah simbol keberuntungan dan keberkahan dari langit.
“Hujan saat Imlek memiliki makna rezeki akan selalu datang.” ujarnya.
Untuk diketahui, terdapat beberapa menu makanan yang wajib dihidangkan dalam tradisi makan malam.
Jingjing mengungkapkan terdapat simbol pada makanan yang disajikan saat makan bersama.
Salah satunya adalah kudapan pemanis, seperti kue keranjang, yang memiliki makna supaya kebersamaan keluarga tetap lengket.
Serta hidangan manis lapis legit yang bermakna bahwa rezeki yang akan datang bakal terus berlapis-lapis.
Makanan utama yang disajikan juga memiliki makna dalam tradisi makan bersama, seperti menyajikan masakan ikan utuh yang artinya masih memiliki sisa-sisa rezeki setiap tahun.
Rangkaian makanan tersebut tidak semata-mata hidangan makanan, tapi di setiap makanan memiliki simbol tersendiri.
“Tidak ada ketentuan jenis ikan yang dihidangkan, yang penting dalam memasak ikan harus utuh. Dengan adanya makanan, kita bisa berdoa melalui makanan yang kita makan,” terangnya.
Tidak hanya tradisi makan malam bersama, pembagian angpau memang menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan saat Tahun Baru Imlek.
Menurut Jingjing, pembagian angpau kepada keluarga besar akan dilaksanakan saat hari Imlek.
“Biasanya angpao diberikan kepada salah satu keluarga yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah, ya harus mengasih angpau,” bebernya.
Jingjing berharap Tahun Ular Kayu memiliki makna kebijaksanaan sehingga pengharapan dan keberuntungan tidak akan habis.
Dengan mengakhiri tahun dengan keluarga besar, berharap di tahun baru dapat selalu rekat tali persaudaraan.
“Harapannya selalu diberikan kesehatan serta keselamatan. Melalui tradisi makan bersama ini, bisa terus rekat antara saudara,” pungkasnya. (mg1/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri