Meski disibukkan dengan pelayanan di klinik kecantikan miliknya, dr Tika Primasari tak pernah menanggalkan aktivitas olahraga menembak dari rutinitasnya. Bahkan, ada berbagai gelar juara yang dia raih dari berbagai kejuaraan di cabor ekstrim ini.
Tika mulai bergabung di salah klinik rawat jalan di Jombang pada 2010. Dua tahun bekerja di sana, dia mulai berpikir untuk mendirikan klinik kecantikan. Gayung tersambut. Keinginannya untuk mendirikan klinik kecantikan di Tulungagung terwujud. "2012 buka klinik kecantikan sendiri," jelasnya.
Rutinitas sebagai dokter kecantikan dia lakoni setiap hari. Hingga pada suatu hari dia diajak oleh salah satu rekannya untuk mengikuti kegiatan menembak di lapangan Brimob di wilayah Kediri.
"Saya coba, menarik juga. Ternyata bisa. Abis itu Covid-19. Tidak ada kegiatan lagi, akhirnya vakum," ujar perempuan kelahiran 3 September 1985 ini.
Baca Juga: Ingin Berlibur ke Bali, Berikut Harga Tiket Bus Tulungagung Bali
Singkat cerita, hasratnya untuk kembali memacu adrenalin di lapangan tembak makin menggebu. Begitu kondisi pandemi di wilayah Tulungagung dikategorikan aman, Tika mulai mencari informasi tentang keberadaan klub menembak di Kota Marmer.
"Akhirnya saya cari IG Perbakin Tulungagung. Lalu, saya diarahkan dan dilenalkan dnegan klub Barestu shooting Club, punya Polres Tulungagung. Di situ ketemu kasat Sabhara Polres Tulungagung. Beliau yang ajari saya menembak," jelasnya.
Latihan rutin dia ikuti bersama rekan-rekan di club. Keseriusannya dibuktikan dengan keinginannya untuk mengikuti sertifikasi International Practical Shooting Confederation (IPSC) yang digelar pada 2022 lalu.
"Setelah lolos tes IPSC baru kita mengurus untuk punya senjata untuk olahraga," ujar perempuan yang tinggal di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, ini.
Ada berbagai nomor dalam cabor menembak. Masing-masing nomor didasarkan pada jenis senapan dan jarak antara penembak ke sasaran.
"Ada yang tembak jarak jauh, 600 meter, atau 25 meter. Lalu, bidang tembak berburu, ada lagi tembak reaksi yang saya geluti," sambungnya.
Baca Juga: Carok Tradisi Duel Berdarah di Madura
Begitu mengantongi sertifikasi IPSC dan kartu anggota klub, perempuan berjilbab ini memang diizinkan memiliki senapan sendiri. Meski begitu, pemilik tidak diizinkan menyimpan senapan di rumah. Ada gudang khusus milik Polri yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata milik atlet-atlet perbakin.
"(Senjata, Red) tidak boleh dibawa pulang. Harus digudangkan," tegasnya.
Tingginya intensitas bergelut dengan senapan membuatnya tertantang untuk terjun di ajang perlombaan. Sampai saat ini, ada berbagai kejuaraan yang dia ikuti. Bukan cuma itu, berbagai gelar juara juga ernah dia raih.
"Dari 2022. Mulai dari (kejuaraan, Red) tembak reaksi di Pilda Jatim pada 2023 juara 3, 2024 juara 2 kategori ladies. Di Boyolali acara Brimob IPSC level 2 dapat juara 1, di Perbakin Oengprov Jabar level 3 juara 2 pada 2024, dan yang barusan Januari Brimob Kelapa Dua Depok juara 3," paparnya.
Di sisi lain, Tika juga harus pintar-pintar membagi waktu dengan perannya sebagai atlet, dokter, dan ibu rumah tangga. Itu sebabnya, sebagai bentuk komitmen pada konsumen, perempuan berkacamata ini hanya intens berlatih di dua pekan jelang kejuaraan.
"Dibandingkan dengan atlet yang bis latihan rutin, saya harus membagi waktu dengan kegiatan praktek saya. Jadi gak bis latihan rutin sperti atlet pada umumnya," kata ibu tiga anak ini.
Baca Juga: Harga Telur Ayam Arab Makin Anjlok, Peternak di Tulungagung Kelabakan
Meski begitu, dia mengaku enggan melepas kegiatan menembak. Sebab, dia menilai aktivitas ini jadi salah satu bentuk olehraga positif yang bisa membantunya. Utamanya membantu untuk tetap fokus, tepat, dan akurat dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Namun demikian, olahraga menembak juga membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Itu sebabnya, Tika lebih memilih mengutamakan faktor keselamatan selama berlatih dan bertanding di kejuaraan. Salah satunya dengan meminta pendamping khusus saat mulai mengoperasikan senjata.
"Sebenarnya awal-awal pasti grogi. Adrenalin terpacu banget. Tapi dari situ kita lebih hati-hati aja. Karena hubungannya sama nyawa. Antara mikir kecepatan, keteoatan, tapi mikir safety juga yang paling kita perhatikan," ucap perempuan ramah ini.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra