Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjuangan Tito Tirto Wicahyo Berdayakan Dalang Muda Tulungagung: "Golek Jeneng, Sanes Golek Jenang"

Aditya Yuda Setya Putra • Selasa, 4 Maret 2025 | 19:03 WIB
Tito Tirto Wicahyo mengenakan setelan dalang di salah satu pementasan wayang, beberapa waktu lalu.
Tito Tirto Wicahyo mengenakan setelan dalang di salah satu pementasan wayang, beberapa waktu lalu.

 

Meski masih berusia muda, Tito Tirto Wicahyo punya visi besar pada kemajuan seni-budaya di Tulungagung. Selain getol mentas dari satu panggung ke panggung lainnya, laki-laki yang aktif berkegiatan sebagai dalang ini juga berupaya memberdayakan dalang-dalang muda.

Kecintaannya pada seni tradisional sudah tampak sejak duduk di bangku SMP. Saat itu dia aktif berkegiatan sebagai pegiat seni kuda lumping. Sedangkan, kecintaannya pada wayang mulai muncul saat dia duduk di bangku SMK.

Baca Juga: Rahasia Binti Muzayyanah, Runner Asal Tulungagung Sabet Juara Festival Lari 10 Km

Seiring berjalannya waktu, dia mulai banyak berkenalan dengan pelaku seni wayang dari berbagai wilayah. Dari sana dia melihat ada banyak potensi yang dimiliki oleh dalang Tulungagung. Sayang, tak semua potensi ini bisa terekspos.

Itu sebabnya, dia mendirikan Pakumpulan Dalang Anom Tulungagung (Pakudatu) yang diharapkan bsia jadi jembatan dan media bagi dalang muda untuk meningkatkan kapasitasnya.

“Intinya saya mendirikan Pakudatu dalang muda SD, SMP, dan SMA. Kalau tidak ada yang menanungi, ndak terekspos. Kalau yang diekspos yang ini-ini aja, kapan anak-anak punya waktu?” sebutnya.

Warga Desa Gempolan, Kecamatan Pakel, ini mengungkapkan bahwa perjuangan dalang muda yang tergabung di Pakudatu tidak muda. Tak jarang merka mendengar suara-suara miring dari sekitar yang tak sepaham.

“Mulai didirikan pada 1 Juni 2024. Salah satu alasannya agar dalang di bawahku bisa saling kenal. Kalau dalangnya sektiar 40-an. Tapi tidak hanya dalang saja. Ada penabuh juga,” jelasnya.

Selama berkiprah, lanjut Tito, Pakudatu pernah mendapat cibiran dari sekitar. Termasuk dari mereka yang memandang sebelah mata. Tapi, tak jarang pula ada berbagai kalangan yang menyambut positif Pakudatu.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan dr Tika Primasari, Atlet Menembak sekaligus Dokter Kecantikan asal Tulungagung

“Pas dulu ikut workshop di Surabaya ada omongan ‘Tulunggaung haru jadi Surakarta-nya Jawa Timur’. Tulungaung gudangnya kebudayaan. Masak mau yang anak muda nanti malah tidak suka seni, malah adu ayam malah celaka,” ujar laki-laki kelahiran 10 Maret 2002 ini.

Meski begitu, Pakudatu justru makin moncer. Berbagai panggung dan pentas dijajaki oleh anggota perkumpulan ini. Termasuk pementasan di Hari Wayang Nasional pada 7 November 2024 lalu.

“Yang berkesan di Hari Wayang Nasional mementaskan 20 dalang dan 20 sinden semalam. Lokasi di Singapore Park Karangsari.” Katanya.

Meski kini mulai dikenal luas di Tulungagung, dia meminta para anggota Pakudatu tak lekas jemawa dan fokus pada peningkatan kapasitas diri dan anggota Pakudatu. Yaitu, dengan berorientasi untuk menambah jadwal mentas ketimbang fokus pada nominal yang akan didapat.

“Teman-teman ini golek jeneng, sanes golek jenang,” ucap Tito.

 

 

Editor : Aditya Yuda Setya Putra
#dalang muda tulungagung #pakudatu tulungagung #tulungagung #wayang tulungagung #dalang anom tulungagung