Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nyambi Kuliah, Kresna Sugiantoro, Pemuda asal Tulungagung Bikin Kerajinan Wayang Kulit Beromzet Jutaan Rupiah

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 13 Maret 2025 | 06:01 WIB

 

Kresna Sugiantoro dalam proses pembuatan salah satu tokok wayang.
Kresna Sugiantoro dalam proses pembuatan salah satu tokok wayang.

Meski jadwal akademiknya cukup padat, Kresna Sugiantoro enggan melepas kegiatan produktifnya di luar jam kuliah.

Yakni, untuk tetap memproduksi wayang kulit. Sebab, kegandrungannya pada seni tradisional ini membuatnya meraup omzet jutaan rupiah sebulan.

“Senang wayang wes dari kecil. Terus kebetulan aktu kecil seneng menggambar. Sama mbah kakung disuruh menggambar wayang. Pas SD membuat wayang di kertas karton,” kata Kresna saat disinggung awal mula jadi perajin wayang kulit.

Laki-laki kelahiran 25 Juni 2002 ini menambahkan, kegiatan ini terus dia lakoni
selama duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, dia mulai berani menjual wayang berbahan karton ke teman-temen sekolahnya.

”Teman-teman SD beli, Rp 10 ribu. Itu SD sekitar 2022,” ucapnya.

Lalu, saat duduk di bangku kelas 6 SD, Kresna mendapat tatah dari kakeknya. Dia juga diminta sang kakek yang merupakan seorang pengrawit untuk mulai membuat wayang dari kulit hewan.

“Mbah kakung dapat warisan wayang dari mbahnya dulu. Warisan mbah saya contoh, di-mal. Masuk SMP beralih ke kulit,” sebut laki-laki 22 tahun ini.

Begitu mulai membikin wayang kulit, Kresna mulai memberanikan diri untuk memasarkan produknya secara luas. Media sosial Facebook dia pilih jadi tempat untuk memasarkan produknya.

“Mulai pemasaran kelas 3 SMP. Terus buatnya kan udah banyak, itu saya posting di Facebook. Dari situ ada yang pesan, terus berkelanjutan sampai sekarang,” akunya.

Itu artinya, Kresna harus pintar-pintar membagi waktu untuk kegiatan akademik di kampus dan kegiatan produksi wayang.

Pembuatan wayang dia lakukan di sela-sela kesibukannya menuntaskan tugas-tugas kuliah. Bahkan, dalam sebulan dia bisa memproduksi 3-4 wayang.

“Masih bikin di sela-sela kuliah. Tergantung pesanan. (Penjualan, Red) satu bulan kadang satu, kadang dua,” ucap mahasiswa ISI Surakarta jurusan seni karawitan ini.

Disinggung soal harga, dia mengungkapkan bahwa satu buah wayang ukuran standar tokoh Arjuna dihargai sekitar Rp 1,2 juta.

Lalu, wayang dengan ukuran sedikit lebih besar seperti tokoh Gatotkaca dibanderol sekitar 1,5 higga 2 juta.

“Gunungan harganya Rp 2,5 sampai 3 juta karena lebih rumit,” katanya.

Meski tak menentu, penghasilan dari kegiatan produksi wayang kulit terbilang menjanjikan untuk skala produsen muda.

“Sebulan omzet pas bareng jadi semua sekitar Rp 2 sampai 3 juta. Pembeli utama dari Tulungagung dan sekitarnya, terus Solo dan sekitarnya,” imbuhnya.

Meski begitu, ada sejumlah kendala yang harus dihadapi perajin wayang kulit. Mulai dari sulitnya mendapat bahan baku hingga faktor alam seperti halnya cuaca.

“Kadang bahan kulit itu sulit. Terus cuaca. Kulit kan dikeringkan. Kalau cuaca hujan terus, hasul kulit tidak bisa bagus,” bebernya.

Meski usahanya terbilang tak mudah, laki-laki yang berdomisili di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, ini punya harapan besar pada generasi muda untuk ikut nguri-uri budaya lokal agar tak lekas digerus zaman.

“Supaya budaya mboteng ilang. Terus diuri-uri generasi berikutnya ben mboten ilang,” harapnya.

 

Editor : Aditya Yuda Setya Putra
#tulungagung #wayang tulungagung #perajin wayang #dalang tulungagung #perajin wayang tulungagung #wayang kulit