RADAR TULUNGAGUNG - Dari sebuah kamar kos di Malang saat pandemi, Maulana Derifato Achmad, pemuda asal Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung menciptakan inovasi yang kini berkembang hingga skala internasional dan dinamai myECO.
Startup myECO besutannya pun menjadi solusi atas lonjakan tagihan listrik selama masa work from home (WFH) pada 2020.
Baca Juga: Diskon Listrik PLN 50 Persen Akan Segera Berakhir, Catat Tanggalnya!
Lulusan Universitas Brawijaya jurusan IT ini tak menyangka bahwa ide sederhananya kini telah membantu ribuan rumah tangga dan perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan listrik dengan myECO
Dengan memanfaatkan otomatisasi, myECO memungkinkan perangkat elektronik mati secara otomatis saat tidak digunakan, menghilangkan pemborosan tanpa perlu campur tangan pengguna.
Baca Juga: Bikin Gerah, Berikut 3 Cara Ampuh Mematikan Alarm Token Listrik yang Mengganggu
Maulana merintis myECO saat masih kuliah di Malang. Ia melihat lonjakan tagihan listrik yang dialami banyak rumah tangga selama WFH bukan karena kecurangan atau kenaikan tarif, melainkan karena konsumsi energi yang tidak terkontrol.
“Awalnya kita buat efisiensi listrik di rumah tangga dulu. Lalu, pada 2024 mulai merambah ke sektor perkantoran, karena di perusahaan bukan hanya listrik yang perlu dihemat, melainkan juga operasional seperti penggunaan tenaga kerja untuk mematikan atau menyalakan perangkat,” ungkapnya.
Baca Juga: Tak Boleh Sembarangan, Ini Aturan Bagi Pengguna Sepeda Listrik
Kini, myECO telah berkembang pesat. Kantor pusatnya berada di Malang dengan tim produksi utama di sana.
Sementara di Jakarta, Maulana membangun tim pemasaran beranggotakan lima orang untuk mengembangkan segmen business-to-business (B2B).
Baca Juga: Tips Aman Berkendara Mobil Listrik saat Musim Hujan
Meski sering bolak-balik Malang-Jakarta, dia tetap fokus memperluas pasar di ibu kota karena banyak perusahaan besar berminat pada solusi efisiensi energi yang ditawarkan myECO.
Visi besar My Eco bukan sekadar menekan biaya listrik, melainkan juga menurunkan emisi karbon.
“Listrik kita masih banyak yang berasal dari batu bara yang menghasilkan emisi karbon tinggi. myECO hadir untuk membantu perusahaan dan rumah tangga menurunkan jejak karbonnya,” ungkapnya.
myECO kini telah menembus pasar internasional, termasuk Malaysia, Maroko, dan Turki.
Dengan fokus utama di kawasan Asia Pasifik, startup ini berkontribusi dalam menciptakan bangunan ramah lingkungan, audit energi, serta implementasi environmental, social, and governance (ESG) di berbagai perusahaan.
Dari lebih dari 50 produk yang dikembangkan, salah satu yang paling laris adalah fitting lampu otomatis berbasis jadwal.
Baca Juga: Mengenal Menstrual Cup: Produk Menstruasi Ramah Lingkungan, Tertarik Mencoba?
Produk ini memungkinkan lampu menyala dan mati sesuai waktu yang ditentukan, tanpa memerlukan koneksi wifi atau internet.
“Produk ini laris di daerah yang koneksi internetnya belum stabil, seperti Tulungagung dan beberapa wilayah lain. Banyak orang membelinya menjelang Lebaran, karena bisa digunakan untuk menyalakan lampu secara otomatis agar rumah terlihat berpenghuni saat ditinggal mudik,” ungkapnya.
Selain itu, myECO juga menyediakan solusi otomatisasi lainnya untuk perusahaan, seperti sensor parkir dan sistem pengaturan energi di gedung perkantoran.
Namun, salah satu kendala terbesar yang dihadapi myECO adalah edukasi masyarakat.
Banyak orang masih terjebak dengan mitos alat penghemat listrik yang tidak bekerja secara ilmiah, seperti kapasitor bank atau kartu ajaib yang ditempel di meteran listrik.
“Kita harus mengedukasi masyarakat bahwa efisiensi listrik itu bukan soal membeli alat ajaib, melainkan lebih ke perubahan kebiasaan. Misalnya, mematikan dispenser saat tidak digunakan atau menggunakan timer untuk perangkat elektronik,” ungkapnya.
Editor : Dharaka R. Perdana