Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Puluhan Tahun Menjaga Eksistensi Batik Trenggalek, Berikut Kisah Mizan Prastowo alias Mbah Lamijan

Wanda Asmah Khoiriyah • Senin, 17 Maret 2025 | 19:56 WIB

Mizan Pratowo alias Mbah Lamijan yang menjadi penenun kain motif khas Trenggalek.
Mizan Pratowo alias Mbah Lamijan yang menjadi penenun kain motif khas Trenggalek.

RADAR TRENGGALEK - Di tengah modernisasi dan serbuan kain produksi masal, Mizan Prastowo tetap bertahan sebagai satu-satunya pengrajin tenun di Trenggalek.

Dengan ketelitian dan kesabaran, pria sepuh asal Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, Trenggalek ini terus melestarikan motif-motif khas daerahnya, seperti motif cengkeh dan kombinasi berbagai pola tradisional lainnya.

Baca Juga: PDI Perjuangan Trenggalek Berupaya Lestarikan Kesenian Jaranan Turonggo Yakso, Begini Caranya

"Sejak muda, saya telah berkecimpung di dunia tenun, mengasah keterampilannya saat bekerja, sebelum akhirnya memproduksi kain tenunnya sendiri di kampung halaman," ujarnya, kepada Radar Trenggalek.

Mizan Prastowo atau sapaan akrabnya Mbah Lamijan  merupakan perajin yang tekun.

Baca Juga: Ada Sejak Ratusan Tahun Lalu, Intip Kesenian Tiban di Desa Kedungcangkring Tulungagung

Sejak muda, ia telah mengasah keterampilannya saat bekerja sebagai penenun di Kediri.

Dari sanalah ia belajar berbagai teknik menenun, yang kemudian ia terapkan untuk menciptakan kain tenunnya sendiri di kampung halaman.

Baca Juga: Situs Semarum di Trenggalek Belum Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

"Pekerjaan ini sudah menjadi bagian hidup saya sejak muda. Dulu, di Kediri, saya belajar banyak hal tentang tenun, dan akhirnya saya bisa menerapkannya untuk menghasilkan kain tenun khas Trenggalek," terangnya.

Salah satu keistimewaan tenun buatannya adalah motif khas yang dikenal luas di Trenggalek, seperti motif cengkeh dan kombinasi berbagai motif lainnya.

Baca Juga: Kemarau, Masyarakat Jajar Perang Cambuk, Laksanakan Tradisi Tiban untuk Memohon Hujan

Setiap potongan kain bisa memiliki motif berbeda, yang membuat pengerjaannya semakin menantang.

"Karena usia semakin tua, pengerjaan satu sarung saja bisa memakan waktu hingga seminggu atau lebih, tergantung tingkat kerumitan motifnya," ungkapnya.

Proses pembuatan kain tenun ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga kesabaran dan ketelitian tinggi.

Pemilihan benang yang sesuai sangat penting untuk memastikan hasil akhir yang berkualitas. Bahkan, pewarnaan benang pun dilakukan sendiri agar warna yang dihasilkan tetap autentik dan tahan lama.

Baca Juga: Mencengangkan, Ternyata Ini Kiat Ilma Abidina Cahya Menjaga Eksistensi Batik Trenggalek

Meski dihadapkan pada tantangan besar dengan semakin berkurangnya peminat dan regenerasi perajin yang minim, Lamijan tetap teguh mempertahankan warisan budaya ini.

Saat ini, ia menjadi satu-satunya perajin tenun di Trenggalek yang masih aktif berkarya.

Baca Juga: Gelar Karya Svarga Pawawastra 5 SMKN 2 Trenggalek, Ajang Unjuk Bakat, Angkat Batik dan Kearifan Lokal

Dirinya tetap menjaga warisan ini dengan menjual hasil karyanya seharga Rp 300 ribu per potong atau sekitar Rp 250 ribu, tergantung tingkat kesulitan kain.

Ia berharap keindahan dan keunikan tenun khas Trenggalek tetap lestari dan dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda.

Baca Juga: Jangan Terkecoh, Ini Perbedaan Batik Lurik Bhumi Ngrowo asal Tulungagung yangg Asli dan yang Palsu

Keuletannya menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup, meski zaman terus berubah.

"Selama masih ada yang menghargai kerajinan ini, saya akan terus menenun," katanya dengan penuh semangat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tenun #motif cengkeh #kain tenun #cengkeh #trenggalek #tenun khas trenggalek