Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Berawal dari Kaki Lima, Ahmad Sidiq Kembangkan Bisnis Telur Asin Kenamaan di Tulungagung

Aditya Yuda Setya Putra • Selasa, 18 Maret 2025 | 00:36 WIB
Ahmad Sidiq mengemas telur asin usai melakukan serangkaian proses produksi.
Ahmad Sidiq mengemas telur asin usai melakukan serangkaian proses produksi.

Penjualan telur asin memang bukan jadi usaha utamanya. Tapi, kini Ahmad Sidiq perlahan mulai merasakan hasil dari usaha sampingannya ini. Meski begitu, dia tetap berkeinginan untuk meningkatkan skala usaha untuk memberdayakan lebih banyak orang di sekitarnya.

Bisa dibilang, usahanya kini sudah jauh berkembang pesat. Tapi, siapa sangka laki-laki yang tinggal di Desa Sukorejo, Kecamatan Karangrejo, ini mengawali bisnis telur asin dari jualan di lapak kaki lima.

Sejak awal, laki-laki yang akrab disapa Adiq ini membuka usaha penetasan bebek. Dari sana muncul ide untuk memproduksi telur asin.

"Pada 2021 langsung nekat produksi padahal tidak ada permintaan. Waktu itu saya jual di pinka," akunya.

Karena masih pemula, tak banyak telur yang dia bawa untuk dijajakan. Setiap hari dia hanya membawa sekitar 300 butir telur dari rumahnya.

Karena permintaan masih minim, tentu tak banyak telur asin yang terjual setiap harinya. Itu membuat Adiq memutuskan untuk mensedekahkan telur yang tak terjual ke panti asuhan dan ke sejumlah masjid.

"Lalu, pada 2024 saya merasa kok capek ya, dan ndan sumbut. Saya coba cari tempat lain yang kiranya berpotensi," jelasnya.

Mulai dari sana dia mulai memperluas cakupannya. Berbagai kios dan pasar modern coba diajak kerja sama sebagai rekanan.

Gayung tersambut. Ada berbagai pelaku usaha di sejumlah wilayah yang tertarik utnuk bekerja sama. Dari sana Adiq perlahan mengembangkan cakupan pasarnya.

"Sekarang agen ada tiga. Lalu, ada warung makan dan supermarket. Per pekan satu agen saya kirim 500 butir. Itu belum termasuk warung makan dan supermarket," kata laki-laki 33 tahun ini.

Ditilik dari segi profit, harus diakui bisnis telur asin memang moncer. Dia mengungkapkan, satu butir telur asin dari bebek jenis peking dihargai sekitar Rp 3,5 ribu per butir. Sedangkan, dalam sehari dia bisa melayani penjualan ke berbagai agen dan rekanan dalam jumlah besar.

"Jelas menghasilkan. Permintaan tinggi. Terus saya sendiri kurang (stok, Red). Kalau rata-rata (penghasilan, Red) 24 juta per bulan," akunya.

Meski begitu, ada berbagai kendala yang kudu dihadapi oleh produsen telur asin. Salah satunya adalah soal rumitnya proses produksi.

Telur bebek mentah bisa rusak jika tidak diolah dengan cermat. Proses "memasak" juga tidak boleh dilakukan secara sembarang.

"Kan sistemnya cuma air sama garam. SOP sudah tak terapkan tapi hasiknya ndak pasti. Kadang asinnya tidak rata. Kalau di penjualan masih aman," kata Adiq lagi.

Meski kini usahanya sudah bisa dikatakan besar, Adiq tak ingin lekas jemawa. Dia pantang menanggalkan hal positif yang terus dia lakoni sejak merintis usahanya.

Yaitu, untuk terus bersedekah ke berbagai lembaga sosial. Kini, dia tak lagi mensedekahkan telur yang tak laku dijual.

"Malah yang dulunyabl tiap Jumat ngasih ke panti, sekarang dibalik. Habis produksi harus menyisihkan dulu buat sumbangan (karena tingginya permintaan, Red)," ucap ayah satu anak ini.

Dalam waktu dekat, dia berencana meningkatkan skala usahanya. Tak melulu soal nominal, hal ini dia sebut sebagai salah satu upaya untuk memberdayakan orang-orang disekitarnya. Yakni, dengan membuka lapangan kerja.

"Biar bagaimana bisa bermanfaat bagi sesama dulu. Paling tidak orang sekitar bisa merasakan dampaknya dulu," ujar Adiq tegas.

Editor : Aditya Yuda Setya Putra
#tulungagung #telur asin tulungagung #telur asin #Telur Bebek #peternak bebek tulungagung #ternak bebek