RADAR TULUNGAGUNG - Di sebuah rumah sederhana di Desa Pandansari, Kecamatan Ngunut, Tulungagung tampak tangan-tangan terampil seorang wanita bernama Anita Imroatul Mufidah sibuk merangkai bunga.
Dari lembaran kertas cellophane, pita, hingga bunga artifisial, semuanya disulap cewek yang berdomisili di Tulungagung timur menjadi buket indah yang siap mempercantik momen spesial banyak orang.
Usaha kerajinan tangan buket bunga yang kini Anita jalani ternyata berawal dari langkah kecil yang iseng-iseng dilakukan semasa kuliah pada 2018.
Bersama temannya, Nurul, mereka mencoba peruntungan di sebuah event wisuda.
"Waktu itu belum banyak yang buat buket. Nurul bagian pemasaran, saya yang merangkai. Modalnya iuran, hasilnya habis, tapi belum ada untung materi, cuma sisa bahan," ungkapnya.
Setelah sempat vakum beberapa tahun, Anita kembali bersentuhan dengan dunia buket bunga saat teman-temannya sering memintanya membuatkan hadiah ulang tahun.
Baca Juga: Menggeluti Seni Tari, Seorang Putri Asal Tulungagung Meraih Prestasi di Dance Sport
Dari awal yang penuh rasa ragu, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh. “Dulu sempat enggak pede sama karya sendiri, tapi karena dukungan teman, akhirnya saya mulai yakin. Semakin sering bikin, semakin sering juga belajar,” ungkapnya.
Kini, dia aktif membuat berbagai jenis buket dengan bahan utama bunga artifisial. Selain tahan lama, bahan ini lebih sesuai dengan kondisi pasar di desanya.
Baca Juga: Cerita Andik Gusdianto, Guru Bahasa Inggris Ajarkan Seni Reog dan Jaranan di Tulungagung
Apalagi, harga buket yang ia tawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp 10 ribu untuk single flower dengan pesanan terbanyak berkisar dari Rp 45 ribu ke atas.
“Mayoritas pelanggan di sini lebih suka yang awet, dan harganya juga bisa menyesuaikan,” ungkapnya.
Anita mendapatkan banyak inspirasi desain dari Instagram, tetapi dia juga terbuka untuk custom design.
Tak jarang pelanggan mengirimkan referensi dari Google, bahkan ada yang meminta bunga fresh ditiru dalam versi artifisial.
Baca Juga: Menjaga Warisan Orang Tua, Wayang Kulit Karya Sumiran Tersebar hingga Banyak Daerah
“Kalau kayak gitu tantangannya lebih besar, apalagi soal warna dan tekstur. Tapi tetap saya coba semaksimal mungkin,” ungkapnya.
Dalam memasarkan produknya, Anita aktif di media sosial dan sering mengadakan promo di momen-momen spesial.
Baca Juga: Bukan Hal Baru, Ini Cara Ammy Aulia Renata Anny Melatih Tari Penyandang Tunarungu di Tulungagung
Dia juga menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah di sekitar Tulungagung. Salah satu pengalaman lucu yang ia kenang datang dari pelanggan remaja.
“Pernah ada yang pilih gambar buket bunga fresh, tapi minta pakai bunga artifisial. Pas buketnya jadi, dia malah tanya ‘itu pakai bunga fresh?', padahal aslinya ya bunga artifisial. Mungkin karena mirip banget,” ungkapnya.
Baca Juga: Siswa Tunarungu di Tulungagung Bisa Bawakan Tari Tradisional dengan Luwes, Ternyata Ini Rahasianya!
Usahanya masih fokus melayani pesanan lokal yang mayoritas dari Tulungagung.
Namun, Anita juga sempat mengikuti event yang ada di Malang. Meski persaingan semakin ketat dan harga sering ditekan, dia tetap berpegang pada kualitas dan keunikan produk buatannya.
Baca Juga: Ambyur di Dunia Tari, Guru SD di Tulungagung Ini Pede Hadapi Stigma Miring
“Sukanya itu kalau pelanggan percaya penuh dan akhirnya puas. Apalagi saat mereka repeat order, rasanya bangga,” ungkapnya.
Harapannya sederhana tapi besar. Dia ingin hasil karya tangan seperti miliknya bisa lebih dihargai masyarakat.
Baca Juga: Pedagang Bunga Tabur Makam di Tulungagung Raup Cuan Berlipat, Sehari Beromzet Rp600 Ribu
“Semoga suatu saat bisa buka toko sendiri, biar orang-orang bisa langsung lihat dan pilih buket sesuai keinginan,” ungkapnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana