Sempat mengalami kesulitan modal, usaha Wahyudi Setiana berupa kerajinan kulit kini menembus pasar internasional. Meski begitu, harapan untuk menembus pasar yang lebih besar lagi dia usung demi mengangkat nama Tulungagung.
“Dari tahun 2010. Sejak awal itu bukan mengerjakan kulit. Sebenarnya pingin punya keahlian menjahit,” ujar Wahyu saat disinggung awal mula dia mulai merintis usahanya.
Jenis usaha ini dia pilih lantaran dia tertarik dengan kegiatan usaha yang ada di lingkungannya. Yakni, Dusun Krajan, Desa Tamban, Kecamatan Pakel.
‘Faktor lingkungan. Karena Desa Tamban itu sentra industri kerajinan tas dan dompet (kulit, Red),” laki-laki kelahiran 1989 ini.
Awalnya, Wahyu mengalami berbagai kesulitan dalam proses produksi. Salah satunya soal kendala saat menjahit bahan kulit.
Latar belakangnya sebagai penjahit kain coba dia aplikasikan saat mulai memproduksi kerajinan kulit. Rupanya hal ini belum cukup untuk menghasilkan produk sesuai dengan yang dia harapkan.
“Dulu belajar menjahit tapi kain. Saya aplikasikan ke kulit ternyata ndak sama. Kalau kain enak, jahit lurus. Kalau dompet (kulit, Red) harus hati-hati,” kata Wahyu.
Dari sana dia mulai belajar perlahan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar.
“Karena sekali salah, kulit ndak bsia dipakai. Jahitannya harus ada jaraknya,” paparnya.
Laki-laki yang berdomisili di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, ini menambahkan, kendala kedua ada pada modal.
Karena bermula dari industri kecil, dia harus bersabar menyisihkan pendapatan untuk menambah kapasitas perusahannya.
“Dapat uang borongan jahit, sebagian saya kumpulkan. 2024 mulai produksi dari nol sampai jadi,” akunya.
Lambat laun, usahanya makin dikenal orang. Selain karena menggencarkan pemasaran, berbagai event pameran yang dihelat pemkab dia sebut jadi salah satu kunci untuk merambah pasar luar negeri.
“Paling jauh pernah ada customer dari Swis, Belanda, Pakistan, India karena mengikuti pameran yang diadakan oleh dinas perdagangan,” sebutnya.
Untuk diketahui, Wahyu biasa memproduksi berbagai produk terapan. Mulai dari sabuk, totebag, handbag, dompet, card holder, dan berbagai produk lain.
Sayangnya, proses pemasaran di wilayah lokal tak semoncer yang dia harapkan. Itu sebabnya dia berharap agar pemkab membuka kesemaptan sebesar-besarnya abgi para pelaku usaha.
Yaitu dengan kembali menggencarkan berbagai event pameran agar para pelaku usaha punya ruang pamer untuk mengenalkan produknya.
“Harapan saya pemkab mengadakan pameran lagi,” sebut ayah dua anak ini.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra