Tulungagung - Perjuangan tak gampang dilakoni Ilham Khairuddin Fathony sebelumnya akhirnya mampu menguasai pasar sayur modern di Bumi Lawadan. Belajar dari nol dia lalui hingga akhirnya bisnisnya kini makin berkembang dan dikenal masyarakat.
Salah satu gerai di deretan ruko Stasiun Tulungagung tampak rampai oleh pengunjung yang sedang berbelanja sayur. Usai melayani pembeli, Ilham mulai cerita soal awk mula dia terjun di dunia bisnis ini.
“Dulu sempat kerja di Jakarta. Pas Covid-19 pulang. Sempat belajar bertani. Pengin slow living. Pas di rumah belajar bertani di Desa Dono, Kecamatan Sendang,” sebutnya lantas terkekeh.
Dalam prosesnya, laki-laki 27 tahun ini coba membangun bisnis pertanian bersama dua kawannya. Di Sendang, dia banyak belajar dari salah satu sosok petani senior.
Baca Juga: Sapi-Kambing di PHT jadi Sasaran Sidak Pemkab Tulungagung Jelang Idul Adha
“Saya banyak belajar dari Pak Agus. Lalu, saya tanyakan ke Pak Agus apakah mau kembali berbisnis sayur. Beliau yang tanam, saya yang jualkan,” akunya.
Gayung tersambut, niatan ini diamini oleh mentornya. Selama sekian waktu, Ilham dan koleganya menjajakan sayur hasil produksi warga Sendang secara daring. Yakni, melalui aplikasi Instagram dan WhatsApp.
Model bisnis ini digemari emak-emak yang juga mulai melek teknologi dan gemar belanja online. Tapi, Ilham juga kewalahan begitu jumlah permintaan baran gdari pasar makin meningkat.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menerapkan model bisnis baru. Yaitu, dengan mengambil barang dari pasar untuk dijual kembali di gerainya.
“Belajar rantai (pemasaran, Red) sayur. Bahkan, pernah ngetutne bakul ethek,” ujar laki-laki yang tinggal di Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, ini.
Baca Juga: Ibu-Anak Hanyut Belum Ditemukan, BPBD Tulungagung Tambah Radius Pencarian hingga 4 Kilometer
Sayangnya, hal ini tak bertahan lama. Perubahan gaya hidup masyarakat membuat Ilham harus bekerja ekstra dalam memasarkan produknya. Buntunya, dia memutuskan untuk vakum sementara waktu, sembari mencoba peruntungan di sektor lain.
Hingga pada Desember 2024 lalu dia bersua dengan salah seorang pelaku bisnis sayur yang juga tertarik untuk membuka gerai bersama.
Begitu sepakat, formasi baru ini membuka gerai sayur di kawasan ruko Stasiun Tulungagung. Tapi, harus diakui langkah pertama tak mulus. Anak pertama dari empat bersaudara ini mengaku pernah merugi hingga puluhan juta di waktu-waktu awal membuka toko.
“Sekarang bisa. Tim ini ada 15 orang dan kita juga melibatkan tim eksternal,” lanjutnya.
Kini, gerai sayurnya jadi jujukan warga yang mencari produk sayur dan kebutuhan dapur lain. Karena permintaan pasar cukup tinggi, Ilham tetap membuka layanan pesan antar.
Lalu, karena makin jeli dalam membaca peluang, bisnisnya kini juga mulai merambah sektor yang lebih luas. Yaitu, sebagai supplier kebutuhan dari bagi 13 cafe-resto dan 1 hotel di Tulungagung.
Meski begitu, Ilham tak lekas puas. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mencakup pasar luar kota, khususnya wilayah Kediri, Blitar, dan Trenggalek.
“Jangka panjang pengin buka franchise (toko, Red) sayur,” ujarnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra