Delapan tahun menjalin kasih, NS, 27, warga Tulungagung ini tak pernah membayangkan cinta yang dipelihara dengan setia akan menjerumuskannya ke dalam lingkaran petaka.
Bukan pernikahan dan bisnis bersama seperti janji sang kekasih YD, melainkan dipaksa menjadi operator judi online usai meninggalkan Tulungagung.
Penyiksaan dan ketakutan tanpa ujung dirasakannya di sebuah kota asing di Kamboja hingga kini masih membekas bagi NS meski sudah berada di Tulungagung.
SANDY SRI YUWANA, Ngunut, Radar Tulungagung –
Awal kisah cinta antara NS, gadis asal Kecamatan Ngunut, Tulungagung, dengan YD, 30, pria asal Mojokerto bermula sederhana. Delapan tahun mereka saling menjaga, saling percaya, dan membangun harapan.
Ketika YD mengajaknya ikut ke Thailand untuk memulai usaha laundry dan hidup bersama sebagai pasangan suami istri, NS tak ragu. Cinta dan kepercayaan membuatnya menutup telinga dari keraguan keluarga.
“Dia berjanji akan menikahi saya dan membuka usaha bersama. Saya percaya karena sudah 8 tahun bersama,” kenang NS dengan mata berkaca-kaca.
Namun, janji manis itu tak lebih dari sebuah jebakan. Pada 1 Januari 2025, NS berangkat dengan penuh harapan. Tapi setibanya di Thailand, dia malah dijemput orang tak dikenal dan dibawa melintasi perbatasan menuju Kamboja tanpa penjelasan dan tanpa pilihan.
Alih-alih menyambut hari-hari indah sebagai pengantin dan pebisnis muda, NS justru terkurung dalam sebuah mes di kota kecil Kamboja.
Dia dipaksa bekerja sebagai operator situs judi online. Jauh dari apa yang pernah dibayangkan. Dalam sehari, dia harus menghubungi ribuan nomor untuk mengajak orang bermain judi. Jika gagal memenuhi target, dia dihukum.
Mulai dari pemotongan uang makan hingga kerja lembur yang menyiksa fisik dan batin. “Saya takut setiap hari. Saya sering menangis diam-diam. Tidak tahu harus mengadu ke siapa,” ujarnya lirih.
Lebih menyakitkan, sang kekasih yang menjadi alasannya datang ke negeri orang ternyata ikut bekerja di tempat yang sama. Bukan sebagai penyelamat, YD malah membiarkan NS terus terjebak, bahkan seolah menjadi bagian dari skenario kelam itu.
Ketika akhirnya NS mencoba mencari pertolongan lewat media sosial, dia malah dipukuli habis-habisan oleh seorang “leader” yang tidak lain adalah kakak tiri YD.
Giginya tanggal, bahunya patah. Dia bahkan harus membayar Rp 30 juta agar bisa keluar dari tempat itu.
“Saya sudah pasrah, tapi saya coba hubungi teman gereja di Tulungagung. Dari situ akhirnya saya bisa diselamatkan,” tutur NS, yang akhirnya pulang pada 12 Mei 2025 setelah lebih dari 3 bulan terjebak.
Kisah tragis ini pertama kali terungkap saat Willy Tjaksono, pengurus DPK Apindo Tulungagung, mendapat laporan dari jaringan gereja bahwa ada seorang wanita asal Ngunut yang disekap dan disiksa di Kamboja.
Bersama beberapa relawan, dia membantu proses evakuasi NS hingga berhasil pulang ke tanah air.
Kini, NS sedang menjalani pemulihan fisik dan trauma psikologis. Rasa percaya yang hancur, cinta yang berubah menjadi luka, dan kehidupan yang hampir direnggut jadi kenangan pahit yang akan terus membekas.
“Saya tidak pernah menyangka cinta saya akan membawa saya ke tempat seperti itu. Tapi, saya masih hidup, dan itu yang paling penting sekarang.” pungkasnya. (*/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah