Di balik bangunan sederhana SDN Demuk 04, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung, tersimpan kisah inspiratif pengabdian seorang guru muda multitalenta yang menjadi penggerak kesenian di sekolah pelosok.
Dia adalah Nora Dhiansa Ayu Nadhiroh, 28 tahun, warga Dusun Boto, Desa/Kecamatan Kalidawir, Tulungagung yang telah mengabdikan diri sejak diangkat sebagai PNS pada tahun 2020.
SANDY SRI YUWANA, Kalidawir, Radar Tulungagung
Tak seperti kebanyakan guru kesenian yang memang berlatar belakang seni, Nora mengaku bahwa awalnya tidak memiliki keinginan khusus untuk membina bidang tersebut.
"Awalnya saya mengajar kesenian bukan karena bisa atau ingin, tapi lebih kepada melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesi," ujarnya jujur.
Namun, seiring waktu, tanggung jawab itu berubah menjadi ketulusan. "Lama-lama saya merasa nyaman dan menikmati kegiatan ini," jelasnya.
Kini, Nora menjadi tumpuan utama dalam setiap kegiatan seni di sekolah. Mulai dari melatih tari tradisional, baca puisi, paduan suara, melukis, hingga drama musikal, semua dilakukan dengan penuh dedikasi.
Dia juga kerap menjadi MC di berbagai acara tingkat kecamatan meski rasa grogi dan minder sering kali menyelinap.
"Rasanya campur aduk, ada senang, takut salah, grogi, dan minder. Tapi tetap saya usahakan yang terbaik, karena ini adalah tugas yang dipercayakan kepada saya," ungkapnya.
Kegiatan pembelajaran nonakademik biasanya dilakukan di luar jam pelajaran. Namun, pada momen-momen tertentu seperti menjelang lomba atau acara sekolah, Nora tak segan memanfaatkan waktu kosong demi melatih anak-anak didiknya.
Hasilnya pun tak sia-sia. "Yang paling berkesan adalah ketika karya kami ditampilkan dan diapresiasi banyak orang," kenangnya, dengan mata berbinar.
Bagi Nora, pendidikan tidak hanya soal buku dan angka. Dia meyakini bahwa seni memegang peranan penting dalam membentuk karakter anak.
Baca Juga: Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung Membingkai Warisan Budaya di Era Modern
"Harapan saya, anak-anak bisa mengembangkan diri mereka sesuai bakat dan minatnya. Serta dapat menjaga keseimbangan antara ilmu, agama, dan kesenian. Karena ilmu membuat hidup jadi mudah, agama membuat hidup jadi terarah, dan seni membuat hidup kita jadi lebih indah," tuturnya bijak.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya sumber daya, semangat Nora tetap menyala. Dia percaya bahwa setiap langkah kecil akan memberi dampak besar bagi masa depan.
"Pesan saya, tetap semangat menjalankan tugas demi membangun masa depan generasi yang berkarakter dan berprestasi. Karena masa depan generasi muda dan masa depan bangsa ada di tangan kita," jelasnya.
Sosok Bu Nora menjadi contoh nyata bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga penginspirasi.
Lewat seni, dia menyentuh hati, membuka cakrawala, dan menyalakan harapan bahwa di pelosok desa pun pendidikan bisa tetap berkilau. (*/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah